Tampilkan postingan dengan label sastra. slankers. puisi. vespa. penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. slankers. puisi. vespa. penyair. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra



Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi
Penulisan Karya Sastra
Oleh, Andhika Daeng Mammangka, S.S


Sekelumit Dunia Sastra
Adalah hal yang menarik mencermati dunia sastra belakangan ini di Indonesia dan dunia. Betapa tidak, sastra di berbagai jenis karya sepertinya telah menjadi jalan lain selain agama untuk menawarkan nilai dan kearifan dalam menjalani kehidupan sebagai ummat manusia. Jika agama masih tampak tercurigai dengan agama lain dalam menyampaikan kebenaran, justru sastra tampaknya dapat dapat menembus batas agama, bangsa ataupun komunitas masyarakat tertentu. Kita bisa menyimak pesan (sastra/teks) kemanusiaan dan perdamaian Mahatma Gandhi atau Bunda Teresa yang keduanya dari India. 

Mahatma Gandhi adalah sosok pria beragama Hindu  yang memimpin rakyat India untuk merdeka dari kekuasaan Inggris pada tahun 1947, “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.” Sementara itu, Bunda Teresa yang seorang missionaris  katolik , memiliki keluhuran jiwa dengan menjadi pemerhati penderita lepra, HIV, orang miskin, sekarat dan sebagainya. Salah satu pesannya yang menarik adalah “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik.”(google.com)

Untuk karya sastra, kita bisa menyimak/memetik nilai dari karya Anton Chekov dan Vadlimir Nabokov  dari Rusia, atau A.A. Navis danPramudya Ananta Toer dari Indonesia. Karya-karya mereka umumnya memotret kehidupan sosialnya dan memberikan inspirasi positif bagi pembacanya.

Di sisi lain, fenomena pasar buku sastra di Indonesia belakangan ini juga tampak mengalami kebangkitan. Ini dapat dilihat dengan munculnya buku-buku sastra yang merajai pasaran buku di toko buku. Walaupun masih beranjak perlahan namun sudah mulai cukup terasa kebangkitannya. Beberapa tahun silam, ada beberapa buku yang penjualannya menunjukkan angka yang luar biasa, seperti pada Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, konon hasil penjualannya mencapai angka milyaran rupiah. Bahkan, kesuksesannya membuat kisah dalam novel tersebut diangkat ke layar lebar.

Fenomena ini mendorong banyak orang untuk kemudian juga mulai menulis sebab faktanya, menulis bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan keuntungan ekonomi.
Namun, harus disadari bahwa buku yang baik secara sastrawi belum tentu harus menjadi best seller atau laku di pasaran. Buku-buku yang memiliki kandungan nilai sastra yang bagus biasanya malah kurang laku di pasaran. Bukan berarti buku itu buruk akan tetapi, buku yang demikian itu membutuhkan kecerdasan tertentu untuk memahami isinya sementara masyarakat kita di Indonesia bukanlah pembaca yang cermat dan cerdas. Umumnya mereka membaca untuk entertain dan hanya membaca bacaan ringan di masa senggang.

Sastra Sebagai Jendela Budaya
Maman S Mahayana, seorang pemuka sastra di Indonesia di dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa Sastra sesungguhnya merupakan produk budaya. Ia lahir dari kegelisahan kultural seorang pengarang. Secara sosiologis, pengarang adalah anggota masyarakat, makhluk sosial yang sangat dipengaruhi lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Maka, ketika ia memutuskan hendak mengungkapkan kegelisahannya sebagai tanggapan evaluatif atas segala problem yang terjadi dalam komunitas budayanya, representasinya terakumulasi dalam teks sastra. Dengan demikian, teks sastra sebenarnya dapat digunakan menjadi semacam pintu masuk untuk memahami kebudayaan sebuah komunitas.(mahayana-mahadewa.com). Pada konteks ke Bulukumbaan, khususnya Kajang sebagai komunitas budaya  tentunya akan ada pertanyaan, apakah ada karya sastra yang terapresiasi dengan baik oleh masyarakat luar Kajang sebagai jendela untuk mengetahui Kajang? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, faktanya; sangat minim karya “orang” Kajang yang terapreasiasi sebagai karya sastra di Indonesia atau bahkan dunia.

Dunia sastra secara umum dikenal dengan dua jenis yakni Sastra Lisan dan Sastra Tulisan.  Sastra lisan yang umum mencakup dengan kata-kata bijak/pesan filosofis/nyanyian/mantera/dongeng/fabel dan sebagainya, yang umumnya untuk konteks Bulukumba, hal tersebut pernah hidup dengan baik dalam jiwa masyarakat sebelum gempuran media elektronik yang membuat masyarakat kian berjarak dengan kearifan “sastra”nya. Padahal, di balik itu semua, ada banyak nilai kearifan dalam kehidupan yang dapat membuat kita menjadi lebih humanis dan religius dalam mengarungi kehidupan ini. 

Sastra tulisan yang secara umum meliputi puisi, cerpen, novelet, novel, roman, naskah drama/film, essay dan sebagainya adalah alat ekspresi, media penyampaian gagasan/ide, sikap, opini, kisah, argumentasi dan sebagainya, Kesemuanya adalah alat atau media untuk merespons fakta-fakta kehidupan (dari catatan Sutardji Calzoum Bahri, Satu Tulisan Pendek dari Lima Puisi Panjang, google.com).

Kajang dan Sastra Lisan Dulu dan Sekarang
Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Tanah Toa, Ammatoa mengatakan bahwa sebelum semua yang ada di dunia ini dituliskan, semuanya hanya terlisankan atau tersebut dalam “pasang/pesan”. Atau lebih tepatnya disebut Pasang Ri Kajang (berisi pedoman hidup yang diyakini Masyarakat Adat Kajang untuk dunia dan akhirat pra dan pasca Islam masuk), Setelahnyalah baru semua dituliskan. Hal ini menandakan, untuk konteks “Masyarakat Kajang”, sastra lisan hidup dan lestari dalam masyarakat Kajang secara luas. Nanti pada fase moderen atau manusia mengenal tulisan/huruf latin, sastra lisan itu kemudian memudar, tersimpan dalam ingatan tetua masayarakat Kajang. Kecuali dalam Masyarakat Adat Kajang, Sastra Lisan tersebut masih lestari dengan baik dan terwariskan dan tertransformasikan dari generasi ke generasi. Faktanya, masih banyak hal yang belum berubah di dalam kawasan Adat Kajang, terutama tradisi masyarakatnya yang harmonis dengan alam semesta, pola hidup yang sederhana, jujur dan bersahaja.
Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra
Pasang Ri Kajang (Pesan di Kajang)sebagai sebuah pedoman hidup dunia dan akhirat Masyarakat Adat Kajang tentunya memiliki kedalaman nilai yang luhur sebab hingga kini, pesan tersebut masih tetap diyakini kebenarannya dan dipatuhi ritualitasnya dalam masyarakat adat. Kemampuan mengeliminasi dan bertahan pada modernitas menjadikannya sebagai komunitas yang memiliki identitas dan otentitas yang kontras dengan masyarakat luar Kajang. Bukan hanya karena berpakaiannya yang serba hitam, namun sikap mereka dan menjalani kehidupan yang arif dan bijaksana.
Sebagai pedoman hidup, Pasang Ri Kajang tentunyalah sangat luas dan banyak. Namun, beberapa contoh dapat dikemukakan dalam tulisan ini sebagai bagian dari upaya penggalian nilai Pasang Ri Kajang dalam penulisan karya sastra (hasil penelitian pribadi penulis);

Appa’ Passala Pasang Ri Kajang, Erang Kasalamakang Lino na Ahere
(empat pesan keselamatan dunia dan akhirat)
Buakkang Mata/Menjaga Pandangan Mata
Pansuluq Saqra/Menjaga Tutur Kata
Palampa Lima/Menjaga Gerak Tangan
Angkaq Bangkeng/Menjaga Langkah Kaki

(hasil penelitian pribadi penulis 2006);
Mencermati salah satu Pasang Ri Kajang ini tentunya akan membawa kita pada dialog bathin yang panjang dan mendalam. Dari dialog bathin tersebut, jika kita ingin memberikan apresiasi dan memberikan respons dengan menggunakan media “karya sastra” sebagai penyampai, empat pesan di atas dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat menjadi energi yang akan terus membuat imajinasi kita tumbuh dan merespons fakta-fakta sosial, religi, sikap ataupun fakta-fakta diri pribadi kita.
Jika ditarik ke dalam salah satu fakta “sosial dan politik” maka, ada berapa banyak karya sastra yang bisa lahir dari fenomena sosial politik di Indonesia atas keingkaran-keingkaran (kedustaan) maupun hal yang bersifat positif (bohong/ingkar) atas fakta kekuasaan, birokrasi maupun kemiskinan yang terus tumbuh tak terbendung dan birokrat dan politisi seolah mengeksploitasi/membiarkan dan dalam pidato-pidato mereka menyebutkan bahwa semua baik-baik saja.

Ada banyak ruang kemungkinan yang bisa terjadi dan menarik untuk diolah sebagai sebuah karya sastra dari fenomena “Kajang”, misalnya; realitas cinta pemuda “adat Kajang” yang akan menemukan benturan budaya jika salah satu di antaranya bukan orang Kajang dan memiliki pandangan hidup moderen, Fakta kehidupan Masyarakat Adat Kajang yang menolak Modernitas “listrik dan mesin”, fakta larangan menebang pohon sembarangan, fakta Hukum Adat kajang yang masih eksis, Ritualitas, dan sebagainya, yang tentunya sangat originil dan dapat menjadi hal menarik jika ditransformasikan ke dalam karya sastra.

Hal lain dalam Masyarakat Kajang, luar dan dalam batayya (kawasan adat), sastra lisan masih bisa diperoleh dari penutur yang jumlahnya tak banyak lagi. Umumnya hanya tetua masyarakat kajang, misalnya kisah atau Legenda Tombong Ratu di Laikang Kajang, Legenda Kehidupan Paratiwi atau dunia bawah tanah, Kisah pengislaman Amma Toa pertama di Kajang, Legenda Raksasa, Kisah Pembumihangusan Kajang oleh Belanda tahun 1825, Kisah perseteruan Raja Kajang dengan Raja Bantaeng, dan sebagainya yang kesemuanya memiliki nilai kesastraan yang tinggi dan hingga hari ini, belum pernah tereksplorasi secara massif dan dijadikan sebuah karya satra dalam bentuk puisi, novel, novelet, roman ataupun cerpen.

Hal-hal yang di atas ini adalah sisi lain dari Masyarakat Adat kajang yang dapat menjadi semangat yang luar biasa bagi Masayarakat kajang yang ingin mencoba melakukan “gerakan sastra” dengan menjadikan hal tersebut sebagai titik inti dari pusarannya dalam berkarya.

Peluang dan Tantangan Global
Inggris dan William Shakespeare yang mengarang Romie dan Juliet ratusan tahun silam telah menjadi bacaan yang telah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa di dunia termasuk Indonesia bahkan telah diangkat ke layar lebar dengan berbagai versi. Nizami dengan kisah Laila Majnun yang dikisahkan hampir seribu tahun silam di timur tengah masih tetap bisa diapresiasi hingga hari ini dengan seluruh nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kedua karya sastra yang mendunia di atas adalah fakta bahwa sebuah karya sastra yang baik bias menembus batas geografis, bahasa, budaya bahkan peperangan yang dahsyat sekalipun. Kemampuan sastra tersebut menembus batas membuktikan bahwa ada nilai positif yang dicari pembaca/manusia di balik karya tersebut.
Sangat mungkin bahwa kelak, ada kisah yang berasal dari sebuah kampung kecil yang bernama Kajang dengan segala keunikan, kesahajaan dan kearifannya, yang akan memaksa seluruh bangsa di dunia untuk menerjemahkan karya tentang Kajang tersebut ke dalam bahasa mereka.

Keunikan Kajang dari berbagai sisi adalah peluang untuk menjadi “sesuatu yang mendunia/mengglobal” dan tantangannya adalah apakah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum telah menempatkan sastra dan pesastra sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Jawabannya ada di dalam hati dan pikiran kita semua, dengan kembali memberikan pertanyaan sederhana, apakah kita tahu sejarah-sejarah kecil di sekeliling kita dan apakah kita kenal seseorang yang menulis dengan serius tentang “Kajang” atau sejarah-sejarah kecil itu?

Karya Sastra Timur tengah, India, Rusia, Jawa dan sebagainya telah kita nikmati di sini. Pernahkah kita bertanya bahwa apakah “Sastra Kajang” pernah dipreasiasi di negeri mereka? Jika belum, sekaranglah saat yang tepat untuk menggempur negeri dan masyarakat mereka dengan media sosial tanpa batas itu! INTERNET.
Kita memiliki peluang. Tantangannya adalah apakah kita menguasai media internet itu?” kita masih terlalu sibuk dengan urusan perut dan belajar main Facebook, mereka telah sampai di bulan dan planet Jupiter.

Kota Bulukumba, 9 Mey 2014
Makalah untuk kegiatan Bahasa Jerman SMA 5 Kajang Bulukumba 2014

###



Selasa, 13 Desember 2011

3 Sajak Akhir Nopember

Mantra Diri di Dalam Sepi
 
duhai langit yang banyak bersaksi
dan bulan yanng pemalu
kukirim seluruh jampi diri di dalam sesaji
menemui kekasih dalam sepi
 
walau tak dapat menyentuh pipi
tenanglah hati menjadi saksi
tentang dia yang dilanda rindu tak bertepi
 
langit menjaga cintaku di dalam hatinya
bulan  menjadi wakil diri, mengecup dia di sela mata
jampi hanya jembatan menemui diriku di dalam dirinya
 
dalam sepi aku menyimpan kekasih di dalam hati
dalam sepi kekasih, dia menyimpan rahasia di dalam dirinya
 
rahasia memaksa diri menjadi terjajah rasa sendiri
 
Bulukumba, 29 Nopember 2011
 
 
Lautan Diri
 
ombak tiga susun menggelora dalam samudera diri
angin mengabut pekat dalam lautan imaji
semesta menghitam
hujan turun dengan perkasa merobek waktu
 
ini marah, sudah di puncak pendam
maka terhunuslah alif lam mim
 
amuk dalam lautan diri
menjadi rahasia milik sendiri dan Rabbiku
 
Bulukumba, 29 November 2011
 
Gelegar
 
aku kira hanya petir yang paling dahsyat gelegarnya
ternyata
saat kau nyatakan cintamu padaku
adalah letusan yang tak kuasa kukira-kira
 
pingsan aku mendengarnya
 
proklamasi perasaan cintamu padaku
adalah gelegar yang membuat waktu terhenti sejenak
 
aku rasa, ini keliru
cinta tak diciptakan Tuhan untuk membunuh
 
Bulukumba, Nopember 2011
 
 

Sabtu, 30 Oktober 2010

Malam Penuh Gerimis



aku kirimkan kau kabar pada merpati yang abu-abu
"nantikan aku di pantaimu itu
temani aku meneguk dosa di bibirmu dan bibirku"
lalu kita melarutkan diri dalam laut "S"

lalu aku tiba  sebelum senja
di bukit kotamu
aku mengintip matahari bulat yang jigga sebelum pekat malam

bersama kuda tuaku
aku pun turun merambati rumput merambat menuju pantai menunggumu

malam turun sangat cepat
aku kira kau hanya melambat

hingga malam penuh gerimis
aku masih duduk di pantai itu
menunggumu

pada ekstase penungguanku
aku menghambur ke dalam kesedihan

air mataku larut bersama hujan gerimis
kuteguk dalam cawan puisiku yang menangis

di malam yang penuh gerimis itu, kau tak pernah datang
kau mengubah jalannya takdir
aku beranjak meninggalkan pantai
menuju kota berikut
membawa kesedihanku dan sebuah "S"
dalam kotak kecil di sakuku

"dengan "S" aku menemukan hati yang baru
aku melamarnya
dan kau tak jadi istri ke tiga dalam kisahku

di malam yang penuh gerimis ini
tepat  tiga tahun yang silam
aku menunggumu di pantai itu

malam ini, aku lelap dengan yang lain
kadang aku menangis jika mengenangmu
perempuan yang tak sempat menemaniku menemukan senja

Parepare/bulukumba, 2007/2010

Selasa, 06 April 2010

(Sekedar membaca kumpulan puisi Andhika Mappasomba)

BY; Laila Qadriani / Perempuan Senja
Mawar dan Penjara


Mawar dan Penjara. Sebuah puisi dan kisah pun bercerita. Mawar dan Penjara, kumpulan puisi yang tidak hanya sekedar puisi yang lahir dari penjara. Banyak kisah yang menyertainya meski hanya lewat penjara. Lalu apa yang tabu dari penjara itu sendiri? tak sekedar menampilkan kedirian yang lahir dari apa yang dipandang sebagai hal yang tabu.

Terlepas dari sisi mawar sebagai lambang atas perempuan, serta penjara sebagai tempat pesakitan yang tak lagi menakutkan. kumpulan puisi ini telah benar-benar mampu menghadirkan tempat yang berbeda. kehadiran buku ini kemudian menjadi sebuah cerita sendiri tentang sebuah interupsi yang tak akan pernah berhenti atas apa yang ada. sebuah realitas sosial yang luka dan semakin sakit .

Puisi Mawar dan Penjara yang ditulis Andhika Mappasomba di balik jeruji polsekta sembilan makassar dibulan desember 2002, tak pernah henti diulas. perbincangan ini pun tak hanya sekedar ulasan. puisi ini kemudian menjadi roh dari setiap seruan perubahan dan perlawanan terhadap apa yang tak semestinya terjadi. puisi ini mampu bertahan selama delapan tahun sebagai sebuah roh perlawanan yang diapresiasi dalam segala bentuk seni. Ditransformasikan ke dalam seni lukis, teater, dan musik.

selama masih ada tanah berpijak dan air pelepas dahaga

kecuali ada tangan jahil yang datang mencabutnya

tapi yakin saja, walau tercabut akarnya, bekasnya akan tetap ada

hingga suatu hari

ada jari-jari lentik yang datang kembali

menancapkan bunga mawar yang baru

Petikan puisi ini, menegaskan betapa sebuah keberanian mampu menjadi tanah berpijak untuk menegakkan kebenaran. lebih lanjut, Andhika Mappasomba memberikan semiotika yang berbeda terhadap mawar. Mawar yang dilahirkannya tak lain adalah sebuah idealisme dan harapannya tentang perubahan yang tak selalu diraih dengan kekerasan walau sesekali mesti menjadi sebuah jalan perubahan.

Apa yang hendak disampaikan Andhika dalam kumpulan puisinya ini menjadi karakter yang utuh secara sadar dalam dirinya. Ia ternyata tak mampu melepaskan diri terhadap kelembutan itu sendiri sambil mungkin saja menyelipkan sebilah badik di pingganggnya yang sesekali ditengoknya. menikamkannya pada wajah keresahan di Republik ini, seperti apa yang baru-baru saja dilakukannya ketika bertemu Pansus Century ketika bertandang ke makassar.


Mawar dan Penjara lahir dari kegelisahan yang digerakkan oleh jiwa muda yang refolusioner. sebab pada masa itu, kekuatan pergerakan menjadikan andhika selalu turun ke jalan bersama aktivis-aktivis mahasiswa lainnya, baik sebagai piranti aksi maupun simpatisan. ketika itulah, kisah mawar dan penjara menjadi semakin kuat dan hidup.

Terlepas dari puisi-puisi yang telah banyak dituliskannya dengan kisah yang tak pernah berubah, Andhika Mappasomba tak serupa pesastra lainnya yang memilih membenamkan dirinya dalam kamar menatap ke jendela pelan-pelan dengan nanar. Andhika seperti kebanyakan ia disapa adalah seorang demonstran ulung. Pembaca tulisan-tulisannya adalah massa aksinya yang diagitasi dengan teks-teks yang sangat revolusioner. Tak hanya itu, hal sederhana namun tak lazim bagi setiap seniman, adalah skuter tuanya yang selalu dijulukinya aladin selalu menemaninya bertualang merangkai kisah-kisah kecil di dunia sastra hingga ke pelosok terpencil republik ini.

Seperti halnya geliat sastra yang sempat menjaya di Makassar dengan kelompok-kelompok diskusi yang selalu intens membincangkan kesusastraan di republik ini, Andhika menjadi penggiat ulung untuk mengembalikan geliat yang selama ini telah tertidur lelap lama sekali. Apa yang dilakukannya dalam perjalanan panjangnya ke setiap dusun-dusun yang mungkin saja tak pernah diketahui dalam peta menjadikannya mampu membentuk berbagai komunitas sastra di setiap dusun, memberdayakan pemuda yang memang sebelumnya telah memiliki potensi bersastra. Kebiasaan uniknya ini pulalah yang selalu mempertemukannya dengan penggiat-penggiat sastra lainnya.

Apa yang melanda dunia kesuastraan kita menjadi tak lagi mengaung dan bermimpi hingga tak pernah terbangun lagi dan menampakkan taringnya lagi menjadi kisah tersendiri bagi Andhika. ruang-ruang diskusi yang berusaha dibangunkannya kembali menjadi efek tersendiri bagi perkembangan dunia kesusastraan kita. Kisah penyair rombeng yang diungkapkannya dalam salah satu puisi pada kumpulan puisinya, Mawar dan Penjara seolah menegaskan dirinya yang sederhana dan biasa-biasa saja namun menjadikan ia sebagai penyair yang betul-betul berbeda dari penyair lainnya yang di republik ini. Jika WS. Rendra dijuluki sebagai burung merak, maka tak salah jika ia menjadi icon dalam puisinya sendiri. Jika kelak kau bertemu dengan seorang lelaki di tengah perjalan panjangnya dengan skuter tua dan setangkai mawar serta khas topi rimba warna hijaunya yang tak pernah bersih, maka ialah andhika mappasomba seorang penyair yang tak ingin dijuluki siapa-siapa.

Sebelumnya, puisi ini pula pernah diterbitka bersama dalam kumpulan puisi dan cerpen ingin ku kencingi mulut monalisa yang tersenyum pada tahun 2004 bersama Anis K. Al-Asyari. lalu apa yang menjadikan Mawar dan Penjara menjadi semakin mengaung? Teks-teks yang membangunnya memang sederhana, namun seperti apa yang menjadi kekuatan setiap puisi adalah metaforanya, maka puisi Mawar dan Penjara juga memiliki kekuatan metafora yang dalam dan tajam.

Maka pantaslah kiranya jika kumpulan puisi Mawar dan Penjara ini menjadi incaran pembaca sastra masa kini.

tanda-tanda tak puitik dalam rangkaian peristiwa puitik [untuk 'mawar dan penjara']

Holish Ir

Menurut seorang kritikus sastra, antologi puisi 'mawar dan penjara' karya Andika Mappasomba adalah rangkaian skema metaforik dari suatu mekanisme artikulasi puitik penulis. Pernyataan itu bukanlah sesuatu yg teramat keliru bila kita telah membaca dan mengamati 'mawar dan penjara', karena dalam beberapa bagian pada sekumpulan puisi tersebut kita tentu menemukan gelimang diksi dan metafora yang seolah tak mengenal apa yang disebut 'situasi teks'.

Entah itu adalah bentuk-bentuk ekspresi kreatif penulis, namun hampir disetiap barisan puisi 'mawar dan penjara', kita seakan disuguhkan menu kata-kata/ diksi yang sebaiknya tidak selalu harus dihadirkan. Kehadiran diksi dan metafora dalam satua kata per-kata yang terlalu intens, membuat kita seringkali harus menelan rasa kecewa saat mendapati berderet-deret bait dalam satu puisi yang tidak memiliki referensi makna (komunikasi sastra) maupun kode-kode estetik.

Peristiwa puitik dalam suatu momentum sosio-kultural tidak akan secara otomatis menjadi artikulasi puitik bila berpindah ke dalam teks sastra, semisal puisi. Hal itu paling tidak seringkali disebabkan oleh dua persoalan; 1) Kehadiran diksi secara intens yang tidak kohesif antara satu dan lainnya dalam rangkaian teks-teks puisi 'mawar dan penjara' menjadi persoalan sekaligus bumerang bagi peristiwa puitik yang hendak direpresentasi ke dalam teks. Hal itu pernah dikatakan oleh Sapardi ketika diminta menanggapi puisi-puisi Joko Pinurbo. 2) Dimensi historis yang diletakkan dalam beberapa satuan puisi 'mawar dan penjara' kadang kala luput menimbang pentingnya menjaga 'ketenangan' komunikasi batin pada lapisan psike teks.

Kita semua pasti punya kepingan-kepingan peristiwa masa lalu yang menurut kita indah dan bermakna, itu karena ia 'meruang' secara laten dalam lintasan ingatan kita tanpa cacat yang fatal. Begitu pula puisi 'mawar dan penjara' mestinya, meruangkan peristiwa puitik ke dalam tanda-tanda puitik dan tak luput menimbang apiknya 'situasi batin teks' dengan 'kehadiran kode-kode estetik'.

Akhrinya, 'mawar dan penjara' harus dibaca secara komprehensif agar tidak terjerembab ke dalam kubangan 'mitos' dan heroisme biografis pengarang. puisi adalah puisi.

makassar april 2010

Apresiasi Mawar dan Penjara

Sajak-Sajak Peluru (Catatan atas Mawar dan Penjara)
By; Anis K Al Asyari

Akhirnya datang juga! Welcome! “Mawar dan Penjara” kumpulan sajak yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh penulisnya, bahkan sebagian dilupakannya karena telah ditaruhnya di hati banyak orang; sahabat-sahabat (termasuk saya), perempuan (yang dengan sajak-sajaklah kemudian berkenalan dengan kepedihan), kawan-kawan (yang menyukai diksi-diksi yang merontah ataupun kisah-kisah (yang memberi kamar bagi pengembaraan sang penyair).
“Mawar dan Penjara” tidak sekedar sekumpulan sajak yang diterbitkan begitu saja, sebagaimana banyak buku yang hadir tanpa semacam pergulatan. Andika Mappasomba (AM) menyulut sajak-sajak itu ke dalam hidupnya yang nomaden, ia memandang sajak sebagai peluru dengan daya jelajah melampaui senjata api bahkan cahaya. AM seperti hantu bagi realitas, hantu bagi orang-orang yang sama sekali tak kenal puisi, hantu bagi mereka yang melupakan puisi, hantu bagi mereka yang tidak ingin ditikam oleh kejamnya puisi.
Sepuluh tahun lamanya lebih kurang, seorang Andhika bergulat dengan realitas dan puisi. AM tak sekedar seperti hantu tetapi juga mata-mata yang melintasi dunia tanpa mengenal pagar waktu. Dari kota ke kota. Dari kampus ke kampus. Dari rumah ke rumah. Dari kos yang satu ke kos yang lainnya. Dari hati ke hati. Bahkan di atas “ALADIN” ia membacakan sajaknya pada dunia.
Di antara para ustad yang berjenggot, di tengah anak-anak mudah kampung yang sedang mabuk berat—puisi AM membuat banyak orang paham tentang banyak hal dalam kehidupan yang membuat kita lupa. Tentang cinta, tentang kebengisan negeri ini yang memperkosa hak-hak warganya.
“Mawar dan Penjara” adalah akumulasi dari pergulatan AM, maka tidalah terlalu berlebihan jika menyebut AM tidak sekedar hantu atau mata-mata tetapi juga seorang yang menjalankan peran “Tuhan” dalam membangun kesadaran hidup kita. Puisi AM bergaya satire bagi saya adalah puisi yang amat kejam menyuarakan berbagai persoalan, meski ia meminjam banyak peristiwa romantika. Kisah-kisah cinta yang menyertai kisahnya sendiri, tentang pertemuan dan perpisahan dan cinta sejati yang mempertemukannya suatu ketika juga akibat dari desakan pergulatan hidup dan sajaknya.
AM bukanlah penyair yang menulis sajak di rumah atau di café sambil menyeruput kopi susu, AM menulis diantara perjalanannya mendeklarasikan puisi tanpa mengenal lelah dan batas ruang. Kota penyair pun didambanya kelak bisa tumbuh dimana sajak-sajak bisa mem-budaya, puisi bisa dibaca dan ditulis oleh siapa saja, tidak saja penyair. AM juga saya kira bukan penyair yang berorientasi pada surat kabar untuk mengangkat pamornya sebagaimana sebagian besar penyair lakukan. AM juga bukan penyair yang bertahun-tahun belajar mengolah kata-kata hanya untuk menulis buku spektakuler. Tidak semua itu, bagi seorang AM, mempuisikan kehidupan dan mempuisikan orang-orang adalah jauh lebih penting. Saya setuju dengan prinsip itu, karena dengan cara itulah penyair bisa dianggap penting dalam konteks apa yang selalu kita sebut “social movement”.
Lalu, Mawar dan Penjara layaknya dibicarakan sekalugus memandang fenomena penyair seperti AM yang konsisten di jalannya. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya kepadanya, untuk apa ia berjalan kemana-mana? Tetapi, ia selalu menjawab, ia sedang membawa kabar sastra ke mana-mana. Dimana ada ruang yang membutuhkan sastra disitulah AM datang. Komitmen ini sama pentingnya dengan menjawab sebuah pertanyaan untuk apa bersastra.
Belum cukup seorang penyair menembaki kita, menembaki kehidupan yang didalamnya ada seribu satu masalah—AM juga saya kita telah menghidupkan kembali eksistensi sastra SULSEL yang selama ini telah terlelap. Selamat untuk Mawar dan Penjara, buku ini amat berharga, akan selalu di hati, akan selalu ampuh sebagai peluru (tanpa batas waktu dan ruang), akan selalu dikenang—lalu keberadaan buku ini sebagai “Mahar” pernikahan saudara AM dan kekasihnya semakin melengkapi betapa puisi akan jauh lebih berharga dari sekedar mahar material—bahkan tak bisa disandingkan “nilainya”.


SUKSES BUAT AM,
Anis Kurniawan, sahabat sepengintipan, kuliah di Pascasarjana ilmu Politik UGM Yogya

Senin, 28 September 2009

Baca Puisi Temu Slankers Sinjai dan Bantaeng