Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 April 2017

Fenomena Perilaku BABS dan Rasa Malu

Fenomena Perilaku BABS dan Rasa Malu
Oleh Andhika Mappasomba

Buang Air Besar Sembarangan (BABS) bukanlah wacana baru di dalam mendorong perilaku hidup sehat di masyarakat Indonesia. Bahkan, untung hal yang satu ini, pemerintah dengan berbagai program terus melakukan penyadaran melalui penyuluhan yang dikemas sedemikian rupa namun, hasilnya dapat dikatakan belum maksimal apalagi, setelah sebuah UNICEF (www.pkpu.tv) melansir data (2013) bahwa masih ada sekitar 26 % populasi Indonesia yang melakukan BABS. 
.
Jika menilik sejarah pemukiman di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, di awal-awal kemerdekaan, pola bermukim masyarakat Sulawesi selatan adalah pola yang perkampungan yang tidak padat dalam artian, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berjauhan yang memungkinkan mereka untuk berperilaku BABS dengan bebas. Beberapa tahun setelah kemerdekaan, seperti dituturkan oleh banyak tetua di Sulawesi Selatan bahwa pemerintah mengeluarkan himbauan agar penduduk berpindah ke ruas-ruas jalan.  Sejak saat itulah, jalan-jalan utama mulai dipadati oleh rumah penduduk.
.
Semakin padatnya rumah penduduk di poros jalan utama tentunya melahirkan persoalan-persoalan social yang baru, diantaranya BABS. BABS dan efek negatif yang ditimbulkannya bagi kesehatan masyarakat semisal diare yang muncul dari bakteri ekoli yang dikandung oleh (air besar)AB. Diare menjadi persoalan serius karena dapat mengakibatkan kematian, dan dapat menjadi wabah yang meluas karena penularannya yang dapat terjadi cukup massif.
.
Gerakan hidup bersih dan bebas perilaku BABS khususnya di kota-kota di Indonesia memang dapat dikatakan cukup berhasil namun, untuk masyarakat yang di tepi kota, sebutlah wilayah pesisir pantai dan pegunungan, sepertinya masih membutuhkan semangat dan strategi yang jitu untuk menyadarkan masyarakatnya.
.
Perilaku BABS sebagai sebuah perilaku primitif tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan masyarakat semata. Umumnya, sebuah komunitas masyarakat yang berperilaku buruk soal BABS ini memiliki alas an-alasan yang cukup rasional untuk membenarkan perilaku mereka. Diantaranya; mereka akan mengatakan bahwa dengan melakukan BAB di tepi sungai dan pantai akan lebih praktis sebab, air dapat diperoleh dengan mudah dan tidak repot lagi. Walaupun, mereka menyadari bahwa perilaku tersebut dapat memunculkan malapetaka, penyakit menular. 
.
Dari data yang ada, beberapa wilayah di Indonesia yang dapat dijadikan sample tentang perilaku masyarakat yang masih melakukan BABS adalah Daerah suku Mandar (Pambusuang dan Tinambung) Sulawesi barat, di Sulawesi Selatan semisal wilayah Tampinna Luwu Timur, beberapa wilayah pesisir di wilayah Kabupaten Kepulaun Selayar, Pantai Lapakaka Mallusetasi di kisaran perbatasan Barru dan Pare-Pare,  Pantai Merpati Bulukumba, Pantai Tanah Beru (wilayah pembuatan perahu tradisional Pinisi Bulukumba),  beberapa wilayah di Kalimantan memang juga memfokuskan aktifitas Mandi, Cuci dan Kakus (MCK)nya di sungai semisal Kampung Bugis Kelurahan Teluk Bayur Kabupaten Berau Kalimantan Timur, dan sebagainya.
 .
Tingkat pendidikan sebuah komunitas masyarakat, menjadi hal terpenting dalam menanamkan kesadaran tentang perilaku buruk BABS. Buktinya, setiap wilayah perkotaan tampaknya, perilaku BABS masyarakatnya juga, tampaknya cukup menurun. Sementara, masyarakat pesisir dan pedalaman memang umumnya, cukup rendah dalam mengenyam pendidikan.
.
Jika melihat fenomena tersebut di atas, ke depan, jika tingkat pendidikan mulai merata dan ajakan hidup sehat tetap dilakukan, tentunya, akan sangat mudah untuk menanamkan kesadaran tersebut. Terlebih, jika pemerintah telah berhasil mekakukan pemerataan dalam memberikan ketersediaan air bersih yang mudah dan murah bagi masyarakat di segala lapisan dan tingkatan wilayah. 
.
Selain menunggu, ada baiknya, jika pemerintah secara massif pula memperkenalkan metode-metode yang berhasil diterapkan  di beberapa wilayah di Indonesia dalam melakukan rekayasa perilaku secara revolusioner dalam menghentikan perilaku BABS.
.
Nusatenggara Barat yang beribukotakan Mataram adalah salah satu wilayah di Indonesia yang patut dijadikan sample dalam memerangi perilaku BABS. Dari sebuah situs berita di internet di sebutkan bahwa beberapa daerah di wilayah tersebut menerapkan Awiq-Awiq (aturan adat) yang tegas soal BABS dimana, awalnya ada beberapa desa atau kelurahan yang membuat semacam Awiq-Awiq yang mengatur bahwa jika ada masyarakat/warga yang kedapatan melakukan BABS maka namanya akan diumumkan di masjid setempat. Bukan hanya itu, selain diumumkan namanya, warga tersebut akan dikenakan denda sebanyak Rp. 5000 yang akan dibayarkan ke kantor desa/kelurahan dan uang tersebut akan dimasukkan ke dalam kas desa/kelurahan.
.
Di sisi lain, untuk mendukung program tersebut pemerintah setempat juga mendorong ketersediaan sanitasi dan air bersih bagi masyarakatnya.
Model pendekatan di Mataram tersebut, kini sudah hampir merata di wilayah tersebut sehingga menempatkan wilayah tersebut sebagai wilayah percontohan dan di awal tahun 2013, wilayah tersebut mendapatkan penghargaan dari kementerian kesehatan Republik Indonesia.
.
Untuk Sulawesi Selatan, prinsip hidup Siri’ na Pacce sebenarnya sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai modal dalam menanamkan kesadaran. Siri’ atau rasa malu tentunya akan lebih mudah diterima masyarakat, hanya saja, formulasi gerakannya tentu akan disesuaikan dengan kecenderungan budaya masyarakat, misalnya; mendorong jargon-jargon BABS adalah perilaku kurang Siri’. Bagaimana tidak, melakukan BABS di sungai atau tepi pantai menempatkan seorang (pelaku) untuk berada dalam situasi yang memungkinkan untuk mempertontonkan dirinya dalam keadaan “telanjang” dimana telanjang adalah sebuah tindakan yang memalukan atau “kurang siri’.
.
Sungguh tak apik menyaksikan seorang lelaki gagah atau gadis cantik sedang buang air besar di tepi pantai, sementara kita sedang duduk tak jauh darinya, menyaksikan matahari terbit atau matahri terbenam.  Sebuah fenomena  yang menggelikan. Bayangkan jika dia adalah kekasih anda.

Andhika Daeng Mammangka. Pegiat Seni dan Budaya, Jurnalis. Menulis buku sastra dan gemar melakukan riset di bidang social dan budaya.   

Tulisan lama- 2013-, dibuang sayang dipelototi saja.





Catatan Fenomena Bayi Dibuang dalam Kardus

Catatan Fenomena Bayi Dibuang dalam Kardus
(Negara Harus Bertanggungjawab)

Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
 
(Bayi laki laki yang baru berumur tiga jam ditemukan warga di kampung Pangngia Dusun Pattunuang, Desa Samangki Kecamatan Simbang, Jl Poros Maros-Bone Km 53, Kabupaten Maros, Sulsel, Jumat (1/3/2013). Bayi tersebut ditemukan warga di sebuah rumah kosong yang di tinggal pemiliknya. Bimo "nama bayi itu"  pun disimpan dalam kardus air mineral kemudian di letakkan di dalam rumah kosong. Kondisinya lemah karena sekujur tubuhnya dikerumuni semut merah. Bahkan pada bagian mulutnya dipasangi lakban. Mungkin , supaya tidak ada yang dengar bayi itu menangis)
Kutipan berita yang saya kutip dari sebuah media cetak ini bukan bermaksud merepetisi situasi dan mengajak pembaca untuk ikut kerasa bersalah atas kejadiannya namun setidaknya,  kutipan berita tersebut akan menghadirkan tiga kemungkinan atas pembaca. Pertama, pembaca akan membayangkan kebiadaban orang tua si bayi tersebut dan akan mengeluarkan kalimat makian bahkan kutukan tanpa solusi. Kedua pembaca yang sudah terbiasa membaca atau menemukan peristiwa yang demikian akan merasa biasa-biasa saja sebab nalar kemanusiaannya terlalu sibuk untuk mengurus permasalahannya sendiri. Ketiga, pembaca akan mencari solusi yang tepat untuk mendorong terhentinya perilaku yang tak humanis ini dengan menawarkan langkah solutif.
Bukan tidak mungkin bahwa perilaku seperti ini akan menjadi fenomena yang tak lagi menggugah empati kemanusiaan. Bahkan menjadi fenomena yang tak berefek lagi sebagai interupsi atas kealfaan manusia terhadap system nilainya sendiri. Jika nyawa bayi (anak) saja telah disepelekan oleh manusia (orang tua) maka, sepertinya membicarakan moralitas dan etika menjadi absurd.
Budayawan sibuk membahas tentang tatakrama dan moralitas dalam berinteraksi sosial. Sementara, budayawan sudah terseret jauh dan mengenyampingkan nyawa sebagi titik inti dari kehidupan. Tampaknya, untuk fenomena bayi dalam kardus ini,  budayawan sebagai corong transformasi nilai pun mengalami kematian atau mabuk di dalam menikmatinya dengan segelas teh hangat pagi hari sambil membaca Koran, tak melakukan apa-apa.
Budayawan dan Agamawan
Membuang bayi dalam kardus, secara umum, desas desus yang selalu muncul adalah bahwa biasanya hal tersebut dilakukan oleh seseorang untuk menutupi rasa malunya yang disebabkan oleh peristiwa dari kehamilan yang tak diinginkan, kehamilan di luar nikah. Rasa malu dalam konteks ini, mengalahkan rasa berdosa. Artinya budayawan yang membentengi budaya dengan rasa malu itu sangat berhasil sementara para (agamawan) da’i telah gagal dalam memberikan pengetahuan dan membangkitkan kesadaran atas dosa membuang bayi. Tuhan pun dilawan, apalah lagi hanya Dinas Kebudayaan atau lembaga budaya lainnya
.
Jika fenomena bayi yang dikeremuni semut ini belum juga bisa menjadi interupsi bagi Agamawan dan Budayawan sebagai peristiwa besar yang menggugah, patut dicurigai bahwa keduanya telah terseret juga dalam arus besar yang terjadi dalam keseharian yakni; politik.
Agamawan dan Budayawan cenderung lebih tertarik menyikapi persoalan politik padahal, kejadian bayi dalam kardus yang dikerumuni semut ini akan terus berulang dan tidak ada langkah untuk menghentikannya. Bahasa budaya dan bahasa agama sepertinya mengalami stagnasi atau kebekuan dalam menghidupkan kembali empati kemanusiaan.
Peristiwa “membuang bayi” bukanlah peristiwa yang baru dan cerita setelahnya selalu beragam. Umumnya anak-anak itu berakhir di panti asuhan atau diambil oleh seseorang sebagai anak angkat. Mungkin juga di usia sekian tahun, kita akan menemukannya di jalanan, menambah cerita panjang tentang duka dan ramainya penjara dengan anak-anak. Atau yang lebih mengerikan adalah, bayi-bayi tersebut akan diperjualbelikan dan identitasnya dikaburkan.
Agamawan dan Budayawan sebagai juru bicara kemanusiaan dan moralitas sudah tak lagi memiliki tuah atau aji yang mumpuni, Negara memang sebaiknya melakukan kontemplasi nasional untuk merenungkan kembali bahwa untuk apa lembaga Negara ini ada jika bukan untuk mengurusi manusia-manusia yang ada di dalamnya dari urusan “A hingga Z” terutama yang berefek secara social?
Masyarakat awam, yang memang tak mau tahu soal Negara dan kewajibannya, di dalam kesehariannya, umumnya hanya mengenal dua golongan. Yang pertama, Agamawan, untuk urusan ibadah, ceramah, dan selebrasi agama lainnya. Umumnya pula, golongan ini yang paling dicari saat hari jumat, acara maulid dan sebagainya.  Yang kedua adalah Budayawan yang dianggap selalu mengurusi selebrasi atau perayaan hari-hari besar Negara semisal perayaan tuhuhbelasan dan lomba-lombanya atau selebrasi Negara lainnya.
Terkait dengan “membuang bayi” Agamawan dan Budayawan adalah benteng Negara dalam menghadapi persoalan ini sebab sangat terkait dengan mentalitas dan rohaniah masyarakat. Tapi, dalam kenyataannya, apakah Negara memberikan perhatian yang baik kepada Agamawan dan Budayawan? Jawaban yang paling pasti adalah “Iya” akan tetapi, itu hanya pada Agamawan dan Budayawan yang dekat dengan penyelenggara Negara atau kekuasaan. Agamawan dan Budayawan, sangat jarang memiliki ruang perhatian bahkan akan dipenjarakan jika menghujat atau mengkritik Negara.
Posisi Perempuan
Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena “membuang bayi”  telah memposisikan perempuan sebagi korban. Terlepas dari sudut pandang hukum, perempuan akan menanggung malu yang lebih besar dan juga tentunya dosa yang lebih berat karena serentetan perilaku yang ikut menyertai sikap membuang tersebut. Boleh jadi, laki-laki/pelaku penghamilan akan berlepas tangan dengan seribu satu alasan dan melanjutkan kehidupannya secara normal dan tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, perempuan akan menanggung beban kesalahan secara sosial yang akan ditanggungnya seumur hidup. Belum lagi perubahan-perubahan secara fisik yang akan dialaminya pasca melahirkan, yang akan dibawanya juga seumur hidup. Belum lagi bayangan-bayangan ketidakharmonisan dalam rumah tangga di hari esok, meski ada lelaki lain yang begitu tulus mencintainya dalam bingkai rumah tangga.
Bayangan Masa Depan Sang Bayi
Sebagai anak yang tak memiliki kejelasan orang tua, tentunya, hal tersebut akan menimbulkan persoalan yang dapat dikira-kira. Mulai dari hidup yang prustasi tanpa pegangan hingga hidup yang tak memiliki keyakinan masa depan dan rasa malu. Intrumennya sangat jelas, untuk masa sekarang saja, banyak anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan secara baik sementara orang tua mereka masih hidup/ada, apalah lagi mereka yang memang tidak memiliki orang tua sejak awal.
Sementara itu, Negara juga tidak pernah berhasil menghentikan fenomena anak jalanan, tunawisma, dan yang lainnya. Sementara, Negara juga terus ikut-ikutan menyalahkan mereka yang berlaku ingkar atas persoalan sosial tersebut.
Rumah Bersalin Untuk Gadis
Sub judul ini mungkin saja terkesan provokatif. Namun, sesungguhnya, sub ini lahir dari sebuah pengamatan panjang dari fenomena tentang perilaku masyarakat Indonesia secara umum dalam kurung waktu yang panjang, demikian pula yang terjadi di dunia luar Indonesia.
Secara sederhana, saya ingin mengajak pembaca menyimak perilaku pergaulan di Indonesia sejak zaman silam. Rasa malu bisa dicermati dari masa ke masa dalam fenomena film. Film-film lama atau klasik di Indonesia, umumnya tidak menjadikan adegan seksusalitas secara bombastis dalam menyajikan cerita. Biasanya hanya sebuah gambar yang naratif dan cenderung semiotik. Namun, mencermati perkembangan film ini dari masa ke masa, adegannya kian liar dan tak bisa terkontrol. Semakin mengundang sahwat.
Ini sama saja dengan fenomena rumah kost dari sebuah kawasan perkotaan. Sederhananya, kota semakin padat dan nyaris tanpa batasan. Dari banyak catatan dan testimony tetua, dulu saat orang berpacaran,  berpegangan tangan saja sudah menjadi hal yang luar biasa karena adanya kontrol moral dari nilai budaya dan agama yang terus direpetisi oleh budayawan dan agamawan, baik kata maupun pola kelakuan/sikap mereka yang mulia.
Sepertinya, gerak perilaku masyarakat Indonesia lambat laun akan mengikuti arus kebudayaan (luar) besar yang massif dengan propagandanya yang mendomplain lewat jejaring kapitalisme yang mekanik dan materialistik, dimana nilai budaya dan agama adalah persoalan nomor terakhir.
Hal yang paling mungkin dilakukan Negara untuk menghentikan tindakan aborsi atau membuang bayi sembarangan adalah Negara harus andil di dalamnya. Peristiwa ini sudah menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan bersama oleh bangsa yang katanya  menjunjung tinggi nilai agama dan kebudayaannya ini.
Jika Negara memberi  ruang dengan pintu yang terbuka lebar untuk praktek prostitusi yang legal, kenapa tidak, Negara juga membuka rumah bersalin untuk gadis belum menikah sebagai tindakan atau solusi yang paling rasional menghadapi fenomena bayi yang dibuang sembarangan. Sebab boleh jadi, bayi-bayi yang berserakan tanpa identitas itu adalah buah dari ruang-ruang prostitusi yang dilegalkan oleh Negara.

Dengan demikian, air mata dan jeritan (masyarakat) pembaca berita terkait dengan “pembuangan bayi” ini akan memiliki kepastian dan jaminan bahwa ke depan, tak ada lagi bayi yang dibuang dalam kardus dengan mulut terlakban dan dikeremuni semut yang akan mengusik kita. Bayi-bayi itu akan dirawat oleh Negara. Dengan demikian pula, Agamawan dan Budayawan bisa menjadi medium penyampai yang baik bahwa Negara ini adalah Negara yang bertanggung jawab atas segala hal yang membuka ruang terjadinya kehamilan di luar nikah. Ini juga menjadi kemungkinan lain dari menyelamatkan posisi Agamawan dan Budayawan untuk tidak disebut absurd dengan posisinya yang mulia di mata manusia dan Tuhan, minimal di Sulawesi Selatan.
Bulukumba, 4 Maret 2013
sebuah tulisan lama yang diposting kembali. sekerdar arsip agar tidak hilang.

Selasa, 13 Mei 2014

Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra



Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi
Penulisan Karya Sastra
Oleh, Andhika Daeng Mammangka, S.S


Sekelumit Dunia Sastra
Adalah hal yang menarik mencermati dunia sastra belakangan ini di Indonesia dan dunia. Betapa tidak, sastra di berbagai jenis karya sepertinya telah menjadi jalan lain selain agama untuk menawarkan nilai dan kearifan dalam menjalani kehidupan sebagai ummat manusia. Jika agama masih tampak tercurigai dengan agama lain dalam menyampaikan kebenaran, justru sastra tampaknya dapat dapat menembus batas agama, bangsa ataupun komunitas masyarakat tertentu. Kita bisa menyimak pesan (sastra/teks) kemanusiaan dan perdamaian Mahatma Gandhi atau Bunda Teresa yang keduanya dari India. 

Mahatma Gandhi adalah sosok pria beragama Hindu  yang memimpin rakyat India untuk merdeka dari kekuasaan Inggris pada tahun 1947, “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.” Sementara itu, Bunda Teresa yang seorang missionaris  katolik , memiliki keluhuran jiwa dengan menjadi pemerhati penderita lepra, HIV, orang miskin, sekarat dan sebagainya. Salah satu pesannya yang menarik adalah “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik.”(google.com)

Untuk karya sastra, kita bisa menyimak/memetik nilai dari karya Anton Chekov dan Vadlimir Nabokov  dari Rusia, atau A.A. Navis danPramudya Ananta Toer dari Indonesia. Karya-karya mereka umumnya memotret kehidupan sosialnya dan memberikan inspirasi positif bagi pembacanya.

Di sisi lain, fenomena pasar buku sastra di Indonesia belakangan ini juga tampak mengalami kebangkitan. Ini dapat dilihat dengan munculnya buku-buku sastra yang merajai pasaran buku di toko buku. Walaupun masih beranjak perlahan namun sudah mulai cukup terasa kebangkitannya. Beberapa tahun silam, ada beberapa buku yang penjualannya menunjukkan angka yang luar biasa, seperti pada Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, konon hasil penjualannya mencapai angka milyaran rupiah. Bahkan, kesuksesannya membuat kisah dalam novel tersebut diangkat ke layar lebar.

Fenomena ini mendorong banyak orang untuk kemudian juga mulai menulis sebab faktanya, menulis bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan keuntungan ekonomi.
Namun, harus disadari bahwa buku yang baik secara sastrawi belum tentu harus menjadi best seller atau laku di pasaran. Buku-buku yang memiliki kandungan nilai sastra yang bagus biasanya malah kurang laku di pasaran. Bukan berarti buku itu buruk akan tetapi, buku yang demikian itu membutuhkan kecerdasan tertentu untuk memahami isinya sementara masyarakat kita di Indonesia bukanlah pembaca yang cermat dan cerdas. Umumnya mereka membaca untuk entertain dan hanya membaca bacaan ringan di masa senggang.

Sastra Sebagai Jendela Budaya
Maman S Mahayana, seorang pemuka sastra di Indonesia di dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa Sastra sesungguhnya merupakan produk budaya. Ia lahir dari kegelisahan kultural seorang pengarang. Secara sosiologis, pengarang adalah anggota masyarakat, makhluk sosial yang sangat dipengaruhi lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Maka, ketika ia memutuskan hendak mengungkapkan kegelisahannya sebagai tanggapan evaluatif atas segala problem yang terjadi dalam komunitas budayanya, representasinya terakumulasi dalam teks sastra. Dengan demikian, teks sastra sebenarnya dapat digunakan menjadi semacam pintu masuk untuk memahami kebudayaan sebuah komunitas.(mahayana-mahadewa.com). Pada konteks ke Bulukumbaan, khususnya Kajang sebagai komunitas budaya  tentunya akan ada pertanyaan, apakah ada karya sastra yang terapresiasi dengan baik oleh masyarakat luar Kajang sebagai jendela untuk mengetahui Kajang? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, faktanya; sangat minim karya “orang” Kajang yang terapreasiasi sebagai karya sastra di Indonesia atau bahkan dunia.

Dunia sastra secara umum dikenal dengan dua jenis yakni Sastra Lisan dan Sastra Tulisan.  Sastra lisan yang umum mencakup dengan kata-kata bijak/pesan filosofis/nyanyian/mantera/dongeng/fabel dan sebagainya, yang umumnya untuk konteks Bulukumba, hal tersebut pernah hidup dengan baik dalam jiwa masyarakat sebelum gempuran media elektronik yang membuat masyarakat kian berjarak dengan kearifan “sastra”nya. Padahal, di balik itu semua, ada banyak nilai kearifan dalam kehidupan yang dapat membuat kita menjadi lebih humanis dan religius dalam mengarungi kehidupan ini. 

Sastra tulisan yang secara umum meliputi puisi, cerpen, novelet, novel, roman, naskah drama/film, essay dan sebagainya adalah alat ekspresi, media penyampaian gagasan/ide, sikap, opini, kisah, argumentasi dan sebagainya, Kesemuanya adalah alat atau media untuk merespons fakta-fakta kehidupan (dari catatan Sutardji Calzoum Bahri, Satu Tulisan Pendek dari Lima Puisi Panjang, google.com).

Kajang dan Sastra Lisan Dulu dan Sekarang
Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Tanah Toa, Ammatoa mengatakan bahwa sebelum semua yang ada di dunia ini dituliskan, semuanya hanya terlisankan atau tersebut dalam “pasang/pesan”. Atau lebih tepatnya disebut Pasang Ri Kajang (berisi pedoman hidup yang diyakini Masyarakat Adat Kajang untuk dunia dan akhirat pra dan pasca Islam masuk), Setelahnyalah baru semua dituliskan. Hal ini menandakan, untuk konteks “Masyarakat Kajang”, sastra lisan hidup dan lestari dalam masyarakat Kajang secara luas. Nanti pada fase moderen atau manusia mengenal tulisan/huruf latin, sastra lisan itu kemudian memudar, tersimpan dalam ingatan tetua masayarakat Kajang. Kecuali dalam Masyarakat Adat Kajang, Sastra Lisan tersebut masih lestari dengan baik dan terwariskan dan tertransformasikan dari generasi ke generasi. Faktanya, masih banyak hal yang belum berubah di dalam kawasan Adat Kajang, terutama tradisi masyarakatnya yang harmonis dengan alam semesta, pola hidup yang sederhana, jujur dan bersahaja.
Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra
Pasang Ri Kajang (Pesan di Kajang)sebagai sebuah pedoman hidup dunia dan akhirat Masyarakat Adat Kajang tentunya memiliki kedalaman nilai yang luhur sebab hingga kini, pesan tersebut masih tetap diyakini kebenarannya dan dipatuhi ritualitasnya dalam masyarakat adat. Kemampuan mengeliminasi dan bertahan pada modernitas menjadikannya sebagai komunitas yang memiliki identitas dan otentitas yang kontras dengan masyarakat luar Kajang. Bukan hanya karena berpakaiannya yang serba hitam, namun sikap mereka dan menjalani kehidupan yang arif dan bijaksana.
Sebagai pedoman hidup, Pasang Ri Kajang tentunyalah sangat luas dan banyak. Namun, beberapa contoh dapat dikemukakan dalam tulisan ini sebagai bagian dari upaya penggalian nilai Pasang Ri Kajang dalam penulisan karya sastra (hasil penelitian pribadi penulis);

Appa’ Passala Pasang Ri Kajang, Erang Kasalamakang Lino na Ahere
(empat pesan keselamatan dunia dan akhirat)
Buakkang Mata/Menjaga Pandangan Mata
Pansuluq Saqra/Menjaga Tutur Kata
Palampa Lima/Menjaga Gerak Tangan
Angkaq Bangkeng/Menjaga Langkah Kaki

(hasil penelitian pribadi penulis 2006);
Mencermati salah satu Pasang Ri Kajang ini tentunya akan membawa kita pada dialog bathin yang panjang dan mendalam. Dari dialog bathin tersebut, jika kita ingin memberikan apresiasi dan memberikan respons dengan menggunakan media “karya sastra” sebagai penyampai, empat pesan di atas dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat menjadi energi yang akan terus membuat imajinasi kita tumbuh dan merespons fakta-fakta sosial, religi, sikap ataupun fakta-fakta diri pribadi kita.
Jika ditarik ke dalam salah satu fakta “sosial dan politik” maka, ada berapa banyak karya sastra yang bisa lahir dari fenomena sosial politik di Indonesia atas keingkaran-keingkaran (kedustaan) maupun hal yang bersifat positif (bohong/ingkar) atas fakta kekuasaan, birokrasi maupun kemiskinan yang terus tumbuh tak terbendung dan birokrat dan politisi seolah mengeksploitasi/membiarkan dan dalam pidato-pidato mereka menyebutkan bahwa semua baik-baik saja.

Ada banyak ruang kemungkinan yang bisa terjadi dan menarik untuk diolah sebagai sebuah karya sastra dari fenomena “Kajang”, misalnya; realitas cinta pemuda “adat Kajang” yang akan menemukan benturan budaya jika salah satu di antaranya bukan orang Kajang dan memiliki pandangan hidup moderen, Fakta kehidupan Masyarakat Adat Kajang yang menolak Modernitas “listrik dan mesin”, fakta larangan menebang pohon sembarangan, fakta Hukum Adat kajang yang masih eksis, Ritualitas, dan sebagainya, yang tentunya sangat originil dan dapat menjadi hal menarik jika ditransformasikan ke dalam karya sastra.

Hal lain dalam Masyarakat Kajang, luar dan dalam batayya (kawasan adat), sastra lisan masih bisa diperoleh dari penutur yang jumlahnya tak banyak lagi. Umumnya hanya tetua masyarakat kajang, misalnya kisah atau Legenda Tombong Ratu di Laikang Kajang, Legenda Kehidupan Paratiwi atau dunia bawah tanah, Kisah pengislaman Amma Toa pertama di Kajang, Legenda Raksasa, Kisah Pembumihangusan Kajang oleh Belanda tahun 1825, Kisah perseteruan Raja Kajang dengan Raja Bantaeng, dan sebagainya yang kesemuanya memiliki nilai kesastraan yang tinggi dan hingga hari ini, belum pernah tereksplorasi secara massif dan dijadikan sebuah karya satra dalam bentuk puisi, novel, novelet, roman ataupun cerpen.

Hal-hal yang di atas ini adalah sisi lain dari Masyarakat Adat kajang yang dapat menjadi semangat yang luar biasa bagi Masayarakat kajang yang ingin mencoba melakukan “gerakan sastra” dengan menjadikan hal tersebut sebagai titik inti dari pusarannya dalam berkarya.

Peluang dan Tantangan Global
Inggris dan William Shakespeare yang mengarang Romie dan Juliet ratusan tahun silam telah menjadi bacaan yang telah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa di dunia termasuk Indonesia bahkan telah diangkat ke layar lebar dengan berbagai versi. Nizami dengan kisah Laila Majnun yang dikisahkan hampir seribu tahun silam di timur tengah masih tetap bisa diapresiasi hingga hari ini dengan seluruh nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kedua karya sastra yang mendunia di atas adalah fakta bahwa sebuah karya sastra yang baik bias menembus batas geografis, bahasa, budaya bahkan peperangan yang dahsyat sekalipun. Kemampuan sastra tersebut menembus batas membuktikan bahwa ada nilai positif yang dicari pembaca/manusia di balik karya tersebut.
Sangat mungkin bahwa kelak, ada kisah yang berasal dari sebuah kampung kecil yang bernama Kajang dengan segala keunikan, kesahajaan dan kearifannya, yang akan memaksa seluruh bangsa di dunia untuk menerjemahkan karya tentang Kajang tersebut ke dalam bahasa mereka.

Keunikan Kajang dari berbagai sisi adalah peluang untuk menjadi “sesuatu yang mendunia/mengglobal” dan tantangannya adalah apakah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum telah menempatkan sastra dan pesastra sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Jawabannya ada di dalam hati dan pikiran kita semua, dengan kembali memberikan pertanyaan sederhana, apakah kita tahu sejarah-sejarah kecil di sekeliling kita dan apakah kita kenal seseorang yang menulis dengan serius tentang “Kajang” atau sejarah-sejarah kecil itu?

Karya Sastra Timur tengah, India, Rusia, Jawa dan sebagainya telah kita nikmati di sini. Pernahkah kita bertanya bahwa apakah “Sastra Kajang” pernah dipreasiasi di negeri mereka? Jika belum, sekaranglah saat yang tepat untuk menggempur negeri dan masyarakat mereka dengan media sosial tanpa batas itu! INTERNET.
Kita memiliki peluang. Tantangannya adalah apakah kita menguasai media internet itu?” kita masih terlalu sibuk dengan urusan perut dan belajar main Facebook, mereka telah sampai di bulan dan planet Jupiter.

Kota Bulukumba, 9 Mey 2014
Makalah untuk kegiatan Bahasa Jerman SMA 5 Kajang Bulukumba 2014

###



Sabtu, 29 Desember 2012

Catatan Akhir Tahun

catatan akhir tahun

anakku
aku ayahmu!
jika tanganku beku dan membatu dan tak kuasa bergerak. aku akan menutup mataku, untuk terus mencoba menuliskan puisi terindah untukmu anakku, dengan bahasa angin yang paling sunyi. dengan bahasa hati yang paling bunyi. dengan bahasa kayu yang menggesek ranting. dengan bahasa air sungai berbatu yang aku sukai.

jika mataku ternyata harus selalu tertutup. biarkan aku terus meraba, untuk merasakan dunia dengan kulit tanganku. dengan begitu, setiap sentuhanku akan menjadikan sajakku yang paling jujur, paling ingin menyatakan bahasa, bahwa aku adalah ayahmu, dan kau adalah anakku, dan puisi adalah warisanku.

aku ayahmu
di akhir tahun ini, menceritakan padamu tentang nizhami tahun 1200-an dan william shakespeare tahun 1600-an; mereka melintasi abad, menceritakan kekuatan-kekuatan cinta dalam setiap sentuhan bunyi yang sunyi. walau kusadari kau belumlah tahu, sebab baru saja kau cium bau dunia.

kau masih bagaikan mereka yang telah uzur namun hatinya tak pernah disentuh cinta.

aku ayahmu, 32 tahun menuliskan puisi. namun tak juga bisa menuliskan puisi terindah, puisi yang sejajar dengan banyak penyair. sebab matahari pagi yang terbit selalu menyuruh aku belajar tentang rahasia malam dan rahasia perjalanan-perjalanan.

aku ayahmu, kau anakku. kelak, aku akan mengajakmu ke bukit atau kau yang akan memapahku ke bukit;sekedar ingin mengatakan;
bahwa kau adalah puisi terindah yang pernah kulahirkan, bersama ibumu.

Bulukumba, 29/12/12

Sabtu, 30 Oktober 2010

Malam Penuh Gerimis



aku kirimkan kau kabar pada merpati yang abu-abu
"nantikan aku di pantaimu itu
temani aku meneguk dosa di bibirmu dan bibirku"
lalu kita melarutkan diri dalam laut "S"

lalu aku tiba  sebelum senja
di bukit kotamu
aku mengintip matahari bulat yang jigga sebelum pekat malam

bersama kuda tuaku
aku pun turun merambati rumput merambat menuju pantai menunggumu

malam turun sangat cepat
aku kira kau hanya melambat

hingga malam penuh gerimis
aku masih duduk di pantai itu
menunggumu

pada ekstase penungguanku
aku menghambur ke dalam kesedihan

air mataku larut bersama hujan gerimis
kuteguk dalam cawan puisiku yang menangis

di malam yang penuh gerimis itu, kau tak pernah datang
kau mengubah jalannya takdir
aku beranjak meninggalkan pantai
menuju kota berikut
membawa kesedihanku dan sebuah "S"
dalam kotak kecil di sakuku

"dengan "S" aku menemukan hati yang baru
aku melamarnya
dan kau tak jadi istri ke tiga dalam kisahku

di malam yang penuh gerimis ini
tepat  tiga tahun yang silam
aku menunggumu di pantai itu

malam ini, aku lelap dengan yang lain
kadang aku menangis jika mengenangmu
perempuan yang tak sempat menemaniku menemukan senja

Parepare/bulukumba, 2007/2010

Kamis, 29 Juli 2010

Jembatan Patah

Jembatan Patah


Apa yang berdaya dalam jiwaku kekasih? Semuanya meredup bagai lilin yang kehabisan kapas. Memanaskannya, tak akan menghadirkan cahaya. Dia hanya akan menjadi cair dalam ketakbermakanaan. Hanya puisi para penyair yang membuatku tak hilang harapan tentang semuanya. Walau kutahu, impian-impian tentang kemanusiaan tak akan pernah tuntas menjadi jingga. Sementara jiwamu kekasih, hidup dalam jiwaku yang sekarat. Luka telah tertampung luap dalam jiwaku.
Di atas jembatan patah yang tak pernah selesai ini, aku duduk di tepiannya, menggelantungkan kaki dan menari-narikannya, sambil membaca sajak-sajak yang hidup dalam kematiannya. Wajahmu terus terbayang, berganti-ganti dengan wajah wajah yang kehabisan nasi dan kata-kata pinta.
Aku telah ragukan diriku kekasih, akan cintaku kepadamu. Aku tak sanggup mencintaimu dengan seksama di musim ini. Ada yang menunggu uluran cinta dari tanganku, sementara Tuhan belum mebuatku berdaya. Biarlah harapan itu terus kukabarkan pada setiap siapa saja. Lantaran sajak Tardji mengajakku memasang perangkap dan siapa tahu ada Satu tuhan yang terjerat dan kita bisa berbagi sekerat.
Aku pergi kekasihku, mencari kenyataan lain, siapatahu ada satu desa di negeri ini yang telah cukup mapan tanpa duka, aku akan mengajakmu kesana jika telah kutemukan. Di sanalah kelak, di sebuah sudutnya, aku akan berbisik perlahan bahwa “aku mencintaimu”
Aku tak bisa mengatakan itu sekarang. Bagaimana aku bisa berkata aku mencintaimu, sementara masih banyak orang lapar yang hidup di bawah jembatan.
Di bawah sana, ada ikan menari-nari mengajakku tersenyum. Itulah yang membuatku betah duduk di jembatan patah ini kekasih. Betah tanpamu!

Topoyo Sulbar 28 Juli 2010

Sabtu, 20 Februari 2010

Mawar dan Penjara (akhirnya segera Terbit)

Mawar dan Penjara
(kisah-kisah yang nyaris terbuang)

akhirnya, setelah enam tahun menunggu hari itu, impian itu pun sudah di depan mata. kumpulan puisi tunggalku akan segera terbit dan sekarang sedang dalam proses cetak.

beberapa puisi memang pernah dimuat di media cetak lokal.dan beberapa puisi sengaja tak pernah dipublikasikan.
setelah hampir setahun berburu ide sampul buku, akhirnya aku memutuskan untuk tak memberinya ornamen apapun di sampulnya. beberapa kawan yang saya mintai pertolongan tak kunjung memberikan hasil. yah, hanya sebuah buku dengan gagasan bentuk yang klasik. tidak seperti buku dengan gaya kontemporer. hanya sebuah buku merah degan guratan huruf berwarna hitam.

Mawar dan Penjara adalah judul buku itu. di dalamnya penuh dengan catatan kesedihan dan catatan perjalananku, catatan cara pandangku menatap semesta dan isinya. aku menuliskan beratus-ratus nama di dalamnya. bahkan puluhan nama yang tak pernah kutemui wujud pemiliknya.
beberapa hanya bertemu di Facebook, imajinasi mimpi dan nama-nama masa kecil.

selama sepuluh tahun belakangan, aku pernah bertualang kemana saja. melintasi dan juga menginap di sudut-sudut yang aku tak kenal lalu menuliskan puisi. mungkin itu kampung anda. atau pernah kutuliskan sebuah peristiwa kecil. mungkin itu juga peristiwa anda.

buku kumpulan puisi ini, pengantarnya dituliskan oleh DR Ahyar Anwar, sahabat yang sekaligus Guru yang banyak menemaniku dalam perjalanan menuju alam sastra tujuh tahun belakangan ini.

puisi Mawar dan Penjara adalah puisi yang aku tulis di sebuah sel Polsekta di makassar pada tahun 2002. dan juga puisi pertama yang saya bacakan buat kanda Ahyar Anwar saat pertama kali berjumpa di Gedung Jurusan BS Unm lantai dua di akhir tahun 2003. puisi ini juga adalah puisi yang dibacakan oleh kanda saya Andi Mappasomba di kantor LBH Makassar, ketika itu di Jalan Macan Makassar, sebelum menyerahkan diri ke POLDA Sulsel atas pertanggungjawabannya melakukan perlawanan bersama petani kajang tahun 2003, melawan PT LONdSUM. bahkan puisi ini telah digubah menjadi lagu oleh UKM SB 9 Univ. Islam Makassar.

buku ini, juga alhamdulillah akan menjadi MAHAR PERNIKAHAN saya, insya allah jika Allah Meridhai. perempuan itu telah ditemukan.

semoga siapapun yang telah menjadi inspirasi dari penulisan semua puisi ini, selalu mendapat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah yang Maha Agung dan Pemurah.

buku puisi ini belum akan dijual dan diedarkan di toko manapun. buku ini, akan saya berikan secara khusus, kepada mereka yang memiliki senergi hati dan kesamaan warnah hidup dalam memandang kenangan. mereka yang selalu mau menghargai peristiwa kecil dan kisah kecil dalam kehidupan mereka. aku akan mengantarkan sendiri buku ini untuk mereka.

tak ada peristiwa yang betul-betul sama terulang dalam waktu

salam cinta dariku yang sedang sakit!


Andhika Mappasomba