Sajak-Sajak Peluru (Catatan atas Mawar dan Penjara)
By; Anis K Al Asyari
By; Anis K Al Asyari
“Mawar dan Penjara” tidak sekedar sekumpulan sajak yang diterbitkan begitu saja, sebagaimana banyak buku yang hadir tanpa semacam pergulatan. Andika Mappasomba (AM) menyulut sajak-sajak itu ke dalam hidupnya yang nomaden, ia memandang sajak sebagai peluru dengan daya jelajah melampaui senjata api bahkan cahaya. AM seperti hantu bagi realitas, hantu bagi orang-orang yang sama sekali tak kenal puisi, hantu bagi mereka yang melupakan puisi, hantu bagi mereka yang tidak ingin ditikam oleh kejamnya puisi.
Sepuluh tahun lamanya lebih kurang, seorang Andhika bergulat dengan realitas dan puisi. AM tak sekedar seperti hantu tetapi juga mata-mata yang melintasi dunia tanpa mengenal pagar waktu. Dari kota ke kota. Dari kampus ke kampus. Dari rumah ke rumah. Dari kos yang satu ke kos yang lainnya. Dari hati ke hati. Bahkan di atas “ALADIN” ia membacakan sajaknya pada dunia.
Di antara para ustad yang berjenggot, di tengah anak-anak mudah kampung yang sedang mabuk berat—puisi AM membuat banyak orang paham tentang banyak hal dalam kehidupan yang membuat kita lupa. Tentang cinta, tentang kebengisan negeri ini yang memperkosa hak-hak warganya.
“Mawar dan Penjara” adalah akumulasi dari pergulatan AM, maka tidalah terlalu berlebihan jika menyebut AM tidak sekedar hantu atau mata-mata tetapi juga seorang yang menjalankan peran “Tuhan” dalam membangun kesadaran hidup kita. Puisi AM bergaya satire bagi saya adalah puisi yang amat kejam menyuarakan berbagai persoalan, meski ia meminjam banyak peristiwa romantika. Kisah-kisah cinta yang menyertai kisahnya sendiri, tentang pertemuan dan perpisahan dan cinta sejati yang mempertemukannya suatu ketika juga akibat dari desakan pergulatan hidup dan sajaknya.
AM bukanlah penyair yang menulis sajak di rumah atau di café sambil menyeruput kopi susu, AM menulis diantara perjalanannya mendeklarasikan puisi tanpa mengenal lelah dan batas ruang. Kota penyair pun didambanya kelak bisa tumbuh dimana sajak-sajak bisa mem-budaya, puisi bisa dibaca dan ditulis oleh siapa saja, tidak saja penyair. AM juga saya kira bukan penyair yang berorientasi pada surat kabar untuk mengangkat pamornya sebagaimana sebagian besar penyair lakukan. AM juga bukan penyair yang bertahun-tahun belajar mengolah kata-kata hanya untuk menulis buku spektakuler. Tidak semua itu, bagi seorang AM, mempuisikan kehidupan dan mempuisikan orang-orang adalah jauh lebih penting. Saya setuju dengan prinsip itu, karena dengan cara itulah penyair bisa dianggap penting dalam konteks apa yang selalu kita sebut “social movement”.
Lalu, Mawar dan Penjara layaknya dibicarakan sekalugus memandang fenomena penyair seperti AM yang konsisten di jalannya. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya kepadanya, untuk apa ia berjalan kemana-mana? Tetapi, ia selalu menjawab, ia sedang membawa kabar sastra ke mana-mana. Dimana ada ruang yang membutuhkan sastra disitulah AM datang. Komitmen ini sama pentingnya dengan menjawab sebuah pertanyaan untuk apa bersastra.
Belum cukup seorang penyair menembaki kita, menembaki kehidupan yang didalamnya ada seribu satu masalah—AM juga saya kita telah menghidupkan kembali eksistensi sastra SULSEL yang selama ini telah terlelap. Selamat untuk Mawar dan Penjara, buku ini amat berharga, akan selalu di hati, akan selalu ampuh sebagai peluru (tanpa batas waktu dan ruang), akan selalu dikenang—lalu keberadaan buku ini sebagai “Mahar” pernikahan saudara AM dan kekasihnya semakin melengkapi betapa puisi akan jauh lebih berharga dari sekedar mahar material—bahkan tak bisa disandingkan “nilainya”.
SUKSES BUAT AM,
Anis Kurniawan, sahabat sepengintipan, kuliah di Pascasarjana ilmu Politik UGM Yogya
EmoticonEmoticon