Selasa, 06 April 2010

tanda-tanda tak puitik dalam rangkaian peristiwa puitik [untuk 'mawar dan penjara']

Holish Ir

Menurut seorang kritikus sastra, antologi puisi 'mawar dan penjara' karya Andika Mappasomba adalah rangkaian skema metaforik dari suatu mekanisme artikulasi puitik penulis. Pernyataan itu bukanlah sesuatu yg teramat keliru bila kita telah membaca dan mengamati 'mawar dan penjara', karena dalam beberapa bagian pada sekumpulan puisi tersebut kita tentu menemukan gelimang diksi dan metafora yang seolah tak mengenal apa yang disebut 'situasi teks'.

Entah itu adalah bentuk-bentuk ekspresi kreatif penulis, namun hampir disetiap barisan puisi 'mawar dan penjara', kita seakan disuguhkan menu kata-kata/ diksi yang sebaiknya tidak selalu harus dihadirkan. Kehadiran diksi dan metafora dalam satua kata per-kata yang terlalu intens, membuat kita seringkali harus menelan rasa kecewa saat mendapati berderet-deret bait dalam satu puisi yang tidak memiliki referensi makna (komunikasi sastra) maupun kode-kode estetik.

Peristiwa puitik dalam suatu momentum sosio-kultural tidak akan secara otomatis menjadi artikulasi puitik bila berpindah ke dalam teks sastra, semisal puisi. Hal itu paling tidak seringkali disebabkan oleh dua persoalan; 1) Kehadiran diksi secara intens yang tidak kohesif antara satu dan lainnya dalam rangkaian teks-teks puisi 'mawar dan penjara' menjadi persoalan sekaligus bumerang bagi peristiwa puitik yang hendak direpresentasi ke dalam teks. Hal itu pernah dikatakan oleh Sapardi ketika diminta menanggapi puisi-puisi Joko Pinurbo. 2) Dimensi historis yang diletakkan dalam beberapa satuan puisi 'mawar dan penjara' kadang kala luput menimbang pentingnya menjaga 'ketenangan' komunikasi batin pada lapisan psike teks.

Kita semua pasti punya kepingan-kepingan peristiwa masa lalu yang menurut kita indah dan bermakna, itu karena ia 'meruang' secara laten dalam lintasan ingatan kita tanpa cacat yang fatal. Begitu pula puisi 'mawar dan penjara' mestinya, meruangkan peristiwa puitik ke dalam tanda-tanda puitik dan tak luput menimbang apiknya 'situasi batin teks' dengan 'kehadiran kode-kode estetik'.

Akhrinya, 'mawar dan penjara' harus dibaca secara komprehensif agar tidak terjerembab ke dalam kubangan 'mitos' dan heroisme biografis pengarang. puisi adalah puisi.

makassar april 2010


EmoticonEmoticon