Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra



Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi
Penulisan Karya Sastra
Oleh, Andhika Daeng Mammangka, S.S


Sekelumit Dunia Sastra
Adalah hal yang menarik mencermati dunia sastra belakangan ini di Indonesia dan dunia. Betapa tidak, sastra di berbagai jenis karya sepertinya telah menjadi jalan lain selain agama untuk menawarkan nilai dan kearifan dalam menjalani kehidupan sebagai ummat manusia. Jika agama masih tampak tercurigai dengan agama lain dalam menyampaikan kebenaran, justru sastra tampaknya dapat dapat menembus batas agama, bangsa ataupun komunitas masyarakat tertentu. Kita bisa menyimak pesan (sastra/teks) kemanusiaan dan perdamaian Mahatma Gandhi atau Bunda Teresa yang keduanya dari India. 

Mahatma Gandhi adalah sosok pria beragama Hindu  yang memimpin rakyat India untuk merdeka dari kekuasaan Inggris pada tahun 1947, “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.” Sementara itu, Bunda Teresa yang seorang missionaris  katolik , memiliki keluhuran jiwa dengan menjadi pemerhati penderita lepra, HIV, orang miskin, sekarat dan sebagainya. Salah satu pesannya yang menarik adalah “Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik.”(google.com)

Untuk karya sastra, kita bisa menyimak/memetik nilai dari karya Anton Chekov dan Vadlimir Nabokov  dari Rusia, atau A.A. Navis danPramudya Ananta Toer dari Indonesia. Karya-karya mereka umumnya memotret kehidupan sosialnya dan memberikan inspirasi positif bagi pembacanya.

Di sisi lain, fenomena pasar buku sastra di Indonesia belakangan ini juga tampak mengalami kebangkitan. Ini dapat dilihat dengan munculnya buku-buku sastra yang merajai pasaran buku di toko buku. Walaupun masih beranjak perlahan namun sudah mulai cukup terasa kebangkitannya. Beberapa tahun silam, ada beberapa buku yang penjualannya menunjukkan angka yang luar biasa, seperti pada Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, konon hasil penjualannya mencapai angka milyaran rupiah. Bahkan, kesuksesannya membuat kisah dalam novel tersebut diangkat ke layar lebar.

Fenomena ini mendorong banyak orang untuk kemudian juga mulai menulis sebab faktanya, menulis bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan keuntungan ekonomi.
Namun, harus disadari bahwa buku yang baik secara sastrawi belum tentu harus menjadi best seller atau laku di pasaran. Buku-buku yang memiliki kandungan nilai sastra yang bagus biasanya malah kurang laku di pasaran. Bukan berarti buku itu buruk akan tetapi, buku yang demikian itu membutuhkan kecerdasan tertentu untuk memahami isinya sementara masyarakat kita di Indonesia bukanlah pembaca yang cermat dan cerdas. Umumnya mereka membaca untuk entertain dan hanya membaca bacaan ringan di masa senggang.

Sastra Sebagai Jendela Budaya
Maman S Mahayana, seorang pemuka sastra di Indonesia di dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa Sastra sesungguhnya merupakan produk budaya. Ia lahir dari kegelisahan kultural seorang pengarang. Secara sosiologis, pengarang adalah anggota masyarakat, makhluk sosial yang sangat dipengaruhi lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Maka, ketika ia memutuskan hendak mengungkapkan kegelisahannya sebagai tanggapan evaluatif atas segala problem yang terjadi dalam komunitas budayanya, representasinya terakumulasi dalam teks sastra. Dengan demikian, teks sastra sebenarnya dapat digunakan menjadi semacam pintu masuk untuk memahami kebudayaan sebuah komunitas.(mahayana-mahadewa.com). Pada konteks ke Bulukumbaan, khususnya Kajang sebagai komunitas budaya  tentunya akan ada pertanyaan, apakah ada karya sastra yang terapresiasi dengan baik oleh masyarakat luar Kajang sebagai jendela untuk mengetahui Kajang? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, faktanya; sangat minim karya “orang” Kajang yang terapreasiasi sebagai karya sastra di Indonesia atau bahkan dunia.

Dunia sastra secara umum dikenal dengan dua jenis yakni Sastra Lisan dan Sastra Tulisan.  Sastra lisan yang umum mencakup dengan kata-kata bijak/pesan filosofis/nyanyian/mantera/dongeng/fabel dan sebagainya, yang umumnya untuk konteks Bulukumba, hal tersebut pernah hidup dengan baik dalam jiwa masyarakat sebelum gempuran media elektronik yang membuat masyarakat kian berjarak dengan kearifan “sastra”nya. Padahal, di balik itu semua, ada banyak nilai kearifan dalam kehidupan yang dapat membuat kita menjadi lebih humanis dan religius dalam mengarungi kehidupan ini. 

Sastra tulisan yang secara umum meliputi puisi, cerpen, novelet, novel, roman, naskah drama/film, essay dan sebagainya adalah alat ekspresi, media penyampaian gagasan/ide, sikap, opini, kisah, argumentasi dan sebagainya, Kesemuanya adalah alat atau media untuk merespons fakta-fakta kehidupan (dari catatan Sutardji Calzoum Bahri, Satu Tulisan Pendek dari Lima Puisi Panjang, google.com).

Kajang dan Sastra Lisan Dulu dan Sekarang
Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Tanah Toa, Ammatoa mengatakan bahwa sebelum semua yang ada di dunia ini dituliskan, semuanya hanya terlisankan atau tersebut dalam “pasang/pesan”. Atau lebih tepatnya disebut Pasang Ri Kajang (berisi pedoman hidup yang diyakini Masyarakat Adat Kajang untuk dunia dan akhirat pra dan pasca Islam masuk), Setelahnyalah baru semua dituliskan. Hal ini menandakan, untuk konteks “Masyarakat Kajang”, sastra lisan hidup dan lestari dalam masyarakat Kajang secara luas. Nanti pada fase moderen atau manusia mengenal tulisan/huruf latin, sastra lisan itu kemudian memudar, tersimpan dalam ingatan tetua masayarakat Kajang. Kecuali dalam Masyarakat Adat Kajang, Sastra Lisan tersebut masih lestari dengan baik dan terwariskan dan tertransformasikan dari generasi ke generasi. Faktanya, masih banyak hal yang belum berubah di dalam kawasan Adat Kajang, terutama tradisi masyarakatnya yang harmonis dengan alam semesta, pola hidup yang sederhana, jujur dan bersahaja.
Pasang Ri Kajang sebagai Sumber Inspirasi Penulisan Karya Sastra
Pasang Ri Kajang (Pesan di Kajang)sebagai sebuah pedoman hidup dunia dan akhirat Masyarakat Adat Kajang tentunya memiliki kedalaman nilai yang luhur sebab hingga kini, pesan tersebut masih tetap diyakini kebenarannya dan dipatuhi ritualitasnya dalam masyarakat adat. Kemampuan mengeliminasi dan bertahan pada modernitas menjadikannya sebagai komunitas yang memiliki identitas dan otentitas yang kontras dengan masyarakat luar Kajang. Bukan hanya karena berpakaiannya yang serba hitam, namun sikap mereka dan menjalani kehidupan yang arif dan bijaksana.
Sebagai pedoman hidup, Pasang Ri Kajang tentunyalah sangat luas dan banyak. Namun, beberapa contoh dapat dikemukakan dalam tulisan ini sebagai bagian dari upaya penggalian nilai Pasang Ri Kajang dalam penulisan karya sastra (hasil penelitian pribadi penulis);

Appa’ Passala Pasang Ri Kajang, Erang Kasalamakang Lino na Ahere
(empat pesan keselamatan dunia dan akhirat)
Buakkang Mata/Menjaga Pandangan Mata
Pansuluq Saqra/Menjaga Tutur Kata
Palampa Lima/Menjaga Gerak Tangan
Angkaq Bangkeng/Menjaga Langkah Kaki

(hasil penelitian pribadi penulis 2006);
Mencermati salah satu Pasang Ri Kajang ini tentunya akan membawa kita pada dialog bathin yang panjang dan mendalam. Dari dialog bathin tersebut, jika kita ingin memberikan apresiasi dan memberikan respons dengan menggunakan media “karya sastra” sebagai penyampai, empat pesan di atas dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat menjadi energi yang akan terus membuat imajinasi kita tumbuh dan merespons fakta-fakta sosial, religi, sikap ataupun fakta-fakta diri pribadi kita.
Jika ditarik ke dalam salah satu fakta “sosial dan politik” maka, ada berapa banyak karya sastra yang bisa lahir dari fenomena sosial politik di Indonesia atas keingkaran-keingkaran (kedustaan) maupun hal yang bersifat positif (bohong/ingkar) atas fakta kekuasaan, birokrasi maupun kemiskinan yang terus tumbuh tak terbendung dan birokrat dan politisi seolah mengeksploitasi/membiarkan dan dalam pidato-pidato mereka menyebutkan bahwa semua baik-baik saja.

Ada banyak ruang kemungkinan yang bisa terjadi dan menarik untuk diolah sebagai sebuah karya sastra dari fenomena “Kajang”, misalnya; realitas cinta pemuda “adat Kajang” yang akan menemukan benturan budaya jika salah satu di antaranya bukan orang Kajang dan memiliki pandangan hidup moderen, Fakta kehidupan Masyarakat Adat Kajang yang menolak Modernitas “listrik dan mesin”, fakta larangan menebang pohon sembarangan, fakta Hukum Adat kajang yang masih eksis, Ritualitas, dan sebagainya, yang tentunya sangat originil dan dapat menjadi hal menarik jika ditransformasikan ke dalam karya sastra.

Hal lain dalam Masyarakat Kajang, luar dan dalam batayya (kawasan adat), sastra lisan masih bisa diperoleh dari penutur yang jumlahnya tak banyak lagi. Umumnya hanya tetua masyarakat kajang, misalnya kisah atau Legenda Tombong Ratu di Laikang Kajang, Legenda Kehidupan Paratiwi atau dunia bawah tanah, Kisah pengislaman Amma Toa pertama di Kajang, Legenda Raksasa, Kisah Pembumihangusan Kajang oleh Belanda tahun 1825, Kisah perseteruan Raja Kajang dengan Raja Bantaeng, dan sebagainya yang kesemuanya memiliki nilai kesastraan yang tinggi dan hingga hari ini, belum pernah tereksplorasi secara massif dan dijadikan sebuah karya satra dalam bentuk puisi, novel, novelet, roman ataupun cerpen.

Hal-hal yang di atas ini adalah sisi lain dari Masyarakat Adat kajang yang dapat menjadi semangat yang luar biasa bagi Masayarakat kajang yang ingin mencoba melakukan “gerakan sastra” dengan menjadikan hal tersebut sebagai titik inti dari pusarannya dalam berkarya.

Peluang dan Tantangan Global
Inggris dan William Shakespeare yang mengarang Romie dan Juliet ratusan tahun silam telah menjadi bacaan yang telah diterjemahkan ke hampir seluruh bahasa di dunia termasuk Indonesia bahkan telah diangkat ke layar lebar dengan berbagai versi. Nizami dengan kisah Laila Majnun yang dikisahkan hampir seribu tahun silam di timur tengah masih tetap bisa diapresiasi hingga hari ini dengan seluruh nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kedua karya sastra yang mendunia di atas adalah fakta bahwa sebuah karya sastra yang baik bias menembus batas geografis, bahasa, budaya bahkan peperangan yang dahsyat sekalipun. Kemampuan sastra tersebut menembus batas membuktikan bahwa ada nilai positif yang dicari pembaca/manusia di balik karya tersebut.
Sangat mungkin bahwa kelak, ada kisah yang berasal dari sebuah kampung kecil yang bernama Kajang dengan segala keunikan, kesahajaan dan kearifannya, yang akan memaksa seluruh bangsa di dunia untuk menerjemahkan karya tentang Kajang tersebut ke dalam bahasa mereka.

Keunikan Kajang dari berbagai sisi adalah peluang untuk menjadi “sesuatu yang mendunia/mengglobal” dan tantangannya adalah apakah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum telah menempatkan sastra dan pesastra sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Jawabannya ada di dalam hati dan pikiran kita semua, dengan kembali memberikan pertanyaan sederhana, apakah kita tahu sejarah-sejarah kecil di sekeliling kita dan apakah kita kenal seseorang yang menulis dengan serius tentang “Kajang” atau sejarah-sejarah kecil itu?

Karya Sastra Timur tengah, India, Rusia, Jawa dan sebagainya telah kita nikmati di sini. Pernahkah kita bertanya bahwa apakah “Sastra Kajang” pernah dipreasiasi di negeri mereka? Jika belum, sekaranglah saat yang tepat untuk menggempur negeri dan masyarakat mereka dengan media sosial tanpa batas itu! INTERNET.
Kita memiliki peluang. Tantangannya adalah apakah kita menguasai media internet itu?” kita masih terlalu sibuk dengan urusan perut dan belajar main Facebook, mereka telah sampai di bulan dan planet Jupiter.

Kota Bulukumba, 9 Mey 2014
Makalah untuk kegiatan Bahasa Jerman SMA 5 Kajang Bulukumba 2014

###



Sabtu, 29 Desember 2012

Catatan Akhir Tahun

catatan akhir tahun

anakku
aku ayahmu!
jika tanganku beku dan membatu dan tak kuasa bergerak. aku akan menutup mataku, untuk terus mencoba menuliskan puisi terindah untukmu anakku, dengan bahasa angin yang paling sunyi. dengan bahasa hati yang paling bunyi. dengan bahasa kayu yang menggesek ranting. dengan bahasa air sungai berbatu yang aku sukai.

jika mataku ternyata harus selalu tertutup. biarkan aku terus meraba, untuk merasakan dunia dengan kulit tanganku. dengan begitu, setiap sentuhanku akan menjadikan sajakku yang paling jujur, paling ingin menyatakan bahasa, bahwa aku adalah ayahmu, dan kau adalah anakku, dan puisi adalah warisanku.

aku ayahmu
di akhir tahun ini, menceritakan padamu tentang nizhami tahun 1200-an dan william shakespeare tahun 1600-an; mereka melintasi abad, menceritakan kekuatan-kekuatan cinta dalam setiap sentuhan bunyi yang sunyi. walau kusadari kau belumlah tahu, sebab baru saja kau cium bau dunia.

kau masih bagaikan mereka yang telah uzur namun hatinya tak pernah disentuh cinta.

aku ayahmu, 32 tahun menuliskan puisi. namun tak juga bisa menuliskan puisi terindah, puisi yang sejajar dengan banyak penyair. sebab matahari pagi yang terbit selalu menyuruh aku belajar tentang rahasia malam dan rahasia perjalanan-perjalanan.

aku ayahmu, kau anakku. kelak, aku akan mengajakmu ke bukit atau kau yang akan memapahku ke bukit;sekedar ingin mengatakan;
bahwa kau adalah puisi terindah yang pernah kulahirkan, bersama ibumu.

Bulukumba, 29/12/12

Rabu, 09 November 2011

Surat Untuk Anakku, Yang Harus Dia Mengerti Saat Dia Jatuh Cinta Pertama Kali, Nanti

Bulukumba, 3 Oktober 2011

Untuk Anakku
(Entah Siapa Namanya)
di
kandungan Ibunda

Salam Penuh Cinta Buat Ananda
Semoga Yang Maha Kuasa Selalu memberikan kemudahan dan rezeki yang halal dalam setiap aktifitasmu, Nak.

Etta menulis surat ini, 25 hari sebelum hari Sumpah Pemuda. Hari yang menjadi penanda lahirnya Indonesia dan Bahasanya. Hari dimana Etta sedang duduk di kursi/meja tempat ayah bekerja sebagai seorang buruh, kuli dan sekaligus sebagai seorang pekerja sosial dan pegiat sastra.

Etta tidak menyiapkan satu puisi pun buat ananda. sebab, saya merasa kini, semua orang dengan mudahnya menuduh diri mereka pandai menulis puisi. sementara, sangat sedikit yang pandai menuliskan surat dan memasukkan getar ke dalam tulisannya. Itulah alasan, mengapa etta hanya menuliskan surat ini.

Bunda sedang hamil tujuh bulan delapan hari (menurut dokter). artinya, tak lama lagi ananda, insya Allah, akan lahir menghirup udara bumi yang kotor. langit yang tercemar dan tanah-tanah yang gersang tandus dan berita-berita penindasan dan pengingkaran atas kemanusiaan.

Etta selalu berdoa kepada Allah, semoga ananda lahir dengan selamat serta tumbuh menjadi anak yang baik. Hingga sekarang, dalam menanti kelahiran ananda, etta dan bunda sering melihat ananda menedang-nendang perut bunda. bereaksi saat musik lembut  speaker diletakkan di perut bunda dan menggeliat saat etta membacakan ayat-ayat Al Quran.
Ananda harus tahu, etta seorang yang sangat suka dengan sastra, menyukai musik klasik dan musik tradisional. Etta sangat senang membaca buku. baik karya lokal maupun terjemahan.
Kelak, Etta berharap, ananda dapat membaca buku karya Sartre, Rosseau, Albert Camus, Sigmund Freud, Jalaluddin Rumi, Iqbal, Gothe,  dan lainnya. Etta juga menyarankan ananda menonton film If Only, Note Book, John Keats, Chikomendes, Monte Kristo, dan sebagainya. Maafkan Etta jika salah tulis judul yah nak.
Saat ananda dihamilkan, dan hampir lahir, Kasus Banggar DPR RI sedang ramai di televisi. Demikian juga dengan kasus bank century masih mengendap. saya harap anada membaca kasus-kasus itu kelak dan menjadikannya pelajaran yang baik.
Ananda, kelak, jika kau jatuh cinta, Etta harap, engkau membaca dulu buku-buku karya Rosseau di Perancis. bacalah juga kisah percintaan yang dikisahkan William Shakespeare dari inggris. ceritanya bagus. Lalu, ketahuilah, bahwa jika kau jatuh cinta dengan perasaan bahagia atau ingin menemukan harapan kebahagiaan dalam cinta maka, yakinlah, Ananda hanya akan terjerembab dalam duka yang mendalam. tapi, jika kau membebaskan diri dari konsesi sosial tentang definisi cinta, kau akan menemukan sesuatu yang berbeda dengan orang lain, sesungguhnya, jangan ragu. kau sedang tak salah. tapi, masyarakatlah yang sakit dan salah dengan pemikirannya. (itu pesan guru Etta yang bernama DR. AA)

Jika kau jatuh cinta pada seseorang, anakku, lekaslah, akhiri hubungan itu. Etta ragu, kau tak akan sanggup menghalau kebejatan dan bujuk rayu seksualitas.Tapi, jangan pernah menikmati sepi berlama-lama. itu berbahaya.

Jika kau ingin menikah, Menikahlah dengan seseorang yang baru saja kau temui di pinggiran kota (atau dimana saja). lalu, bangunlah kisahmu dengan kekasih pilihan hatimu itu dengan perlahan. bagai menyusun batu bata untuk sebuah bangunan yang sangat tinggi. Jadikanlah pernikahanmu menjadi sesuatu yang bersejarah dan terkenang, jangan berpesta dengan bahagia. menikahlah dengan sederhana, dengan kecemasan, bahwa pernikahan dan dunia rumah tangga adalah sebuah neraka yang paling menakutkan. dan hanya kebijaksanaan yang bisa melintasi kengerian itu. menikmati tantangannya dengan selalu menyeduh teh hangat sore hari, lalu meminumnya dengan segala rasa cinta yang paling hitam.

JIka kau jatuh cinta, jatuh cintalah bukan hanya sekali. tebarkanlah cintamu bagai menebar benih-benih senyum agar kelak, kau bisa menuai senyum dari mana saja.

Anakku, jika kelak, Etta menjadi Tua dan sulit kemana-mana, ingatlah saja, bahwa Etta suka ke pinggir pantai menikmati senja. Saat malam, etta suka menepi di tepi danau atau sungai. Mendengarkan bisik air dan merasakan tarian angin di dalam jiwa, bagai menikmati sebuah puisi tentang penyair yang bertarung hidup mati, melintasi kemiskinannya.

Anakku, jika kelak kau telah menemukan pesn ini, teguhkan di hatimu bahwa, hidup harus memiliki rahasia. Dan rahasia adalah sesuatu yang tak wajib kau beritahu siapa pun selain Tuhan. seperti Etta yang merahasiakan banyak hal kepada Bundamu, apa lagi soal Cinta.

(Ananda harus tahu, Etta bertemu Bundamu dalam sebuah perjalan, saat etta sedang touring dengan sebuah skuter butut, hampir seribu kilo meter  dari Bulukumba. di sebuah sore yang lembut, penuh cahaya merah, bundamu jatuh cinta kepadaku, dan aku bilang, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. itu ketahuan kemudian, setelah menikah dan menghamilkanmu. Jika kau ingin bertanya kondisi Etta di masa Sulit, berkunjunglah ke kantor Prof. Ahyar Anwar dan Doktor Dahri Dahlan, merekalah yang membuat Etta mengidap usus buntu, mereka punya banyak buku yang bisa kau curi dari rumah dan pikirannya)

Tertanda, Etta


................A. A K ................  

Selasa, 06 April 2010

Apresiasi Mawar dan Penjara

Sajak-Sajak Peluru (Catatan atas Mawar dan Penjara)
By; Anis K Al Asyari

Akhirnya datang juga! Welcome! “Mawar dan Penjara” kumpulan sajak yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh penulisnya, bahkan sebagian dilupakannya karena telah ditaruhnya di hati banyak orang; sahabat-sahabat (termasuk saya), perempuan (yang dengan sajak-sajaklah kemudian berkenalan dengan kepedihan), kawan-kawan (yang menyukai diksi-diksi yang merontah ataupun kisah-kisah (yang memberi kamar bagi pengembaraan sang penyair).
“Mawar dan Penjara” tidak sekedar sekumpulan sajak yang diterbitkan begitu saja, sebagaimana banyak buku yang hadir tanpa semacam pergulatan. Andika Mappasomba (AM) menyulut sajak-sajak itu ke dalam hidupnya yang nomaden, ia memandang sajak sebagai peluru dengan daya jelajah melampaui senjata api bahkan cahaya. AM seperti hantu bagi realitas, hantu bagi orang-orang yang sama sekali tak kenal puisi, hantu bagi mereka yang melupakan puisi, hantu bagi mereka yang tidak ingin ditikam oleh kejamnya puisi.
Sepuluh tahun lamanya lebih kurang, seorang Andhika bergulat dengan realitas dan puisi. AM tak sekedar seperti hantu tetapi juga mata-mata yang melintasi dunia tanpa mengenal pagar waktu. Dari kota ke kota. Dari kampus ke kampus. Dari rumah ke rumah. Dari kos yang satu ke kos yang lainnya. Dari hati ke hati. Bahkan di atas “ALADIN” ia membacakan sajaknya pada dunia.
Di antara para ustad yang berjenggot, di tengah anak-anak mudah kampung yang sedang mabuk berat—puisi AM membuat banyak orang paham tentang banyak hal dalam kehidupan yang membuat kita lupa. Tentang cinta, tentang kebengisan negeri ini yang memperkosa hak-hak warganya.
“Mawar dan Penjara” adalah akumulasi dari pergulatan AM, maka tidalah terlalu berlebihan jika menyebut AM tidak sekedar hantu atau mata-mata tetapi juga seorang yang menjalankan peran “Tuhan” dalam membangun kesadaran hidup kita. Puisi AM bergaya satire bagi saya adalah puisi yang amat kejam menyuarakan berbagai persoalan, meski ia meminjam banyak peristiwa romantika. Kisah-kisah cinta yang menyertai kisahnya sendiri, tentang pertemuan dan perpisahan dan cinta sejati yang mempertemukannya suatu ketika juga akibat dari desakan pergulatan hidup dan sajaknya.
AM bukanlah penyair yang menulis sajak di rumah atau di café sambil menyeruput kopi susu, AM menulis diantara perjalanannya mendeklarasikan puisi tanpa mengenal lelah dan batas ruang. Kota penyair pun didambanya kelak bisa tumbuh dimana sajak-sajak bisa mem-budaya, puisi bisa dibaca dan ditulis oleh siapa saja, tidak saja penyair. AM juga saya kira bukan penyair yang berorientasi pada surat kabar untuk mengangkat pamornya sebagaimana sebagian besar penyair lakukan. AM juga bukan penyair yang bertahun-tahun belajar mengolah kata-kata hanya untuk menulis buku spektakuler. Tidak semua itu, bagi seorang AM, mempuisikan kehidupan dan mempuisikan orang-orang adalah jauh lebih penting. Saya setuju dengan prinsip itu, karena dengan cara itulah penyair bisa dianggap penting dalam konteks apa yang selalu kita sebut “social movement”.
Lalu, Mawar dan Penjara layaknya dibicarakan sekalugus memandang fenomena penyair seperti AM yang konsisten di jalannya. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya kepadanya, untuk apa ia berjalan kemana-mana? Tetapi, ia selalu menjawab, ia sedang membawa kabar sastra ke mana-mana. Dimana ada ruang yang membutuhkan sastra disitulah AM datang. Komitmen ini sama pentingnya dengan menjawab sebuah pertanyaan untuk apa bersastra.
Belum cukup seorang penyair menembaki kita, menembaki kehidupan yang didalamnya ada seribu satu masalah—AM juga saya kita telah menghidupkan kembali eksistensi sastra SULSEL yang selama ini telah terlelap. Selamat untuk Mawar dan Penjara, buku ini amat berharga, akan selalu di hati, akan selalu ampuh sebagai peluru (tanpa batas waktu dan ruang), akan selalu dikenang—lalu keberadaan buku ini sebagai “Mahar” pernikahan saudara AM dan kekasihnya semakin melengkapi betapa puisi akan jauh lebih berharga dari sekedar mahar material—bahkan tak bisa disandingkan “nilainya”.


SUKSES BUAT AM,
Anis Kurniawan, sahabat sepengintipan, kuliah di Pascasarjana ilmu Politik UGM Yogya

Sabtu, 20 Februari 2010

Mawar dan Penjara (akhirnya segera Terbit)

Mawar dan Penjara
(kisah-kisah yang nyaris terbuang)

akhirnya, setelah enam tahun menunggu hari itu, impian itu pun sudah di depan mata. kumpulan puisi tunggalku akan segera terbit dan sekarang sedang dalam proses cetak.

beberapa puisi memang pernah dimuat di media cetak lokal.dan beberapa puisi sengaja tak pernah dipublikasikan.
setelah hampir setahun berburu ide sampul buku, akhirnya aku memutuskan untuk tak memberinya ornamen apapun di sampulnya. beberapa kawan yang saya mintai pertolongan tak kunjung memberikan hasil. yah, hanya sebuah buku dengan gagasan bentuk yang klasik. tidak seperti buku dengan gaya kontemporer. hanya sebuah buku merah degan guratan huruf berwarna hitam.

Mawar dan Penjara adalah judul buku itu. di dalamnya penuh dengan catatan kesedihan dan catatan perjalananku, catatan cara pandangku menatap semesta dan isinya. aku menuliskan beratus-ratus nama di dalamnya. bahkan puluhan nama yang tak pernah kutemui wujud pemiliknya.
beberapa hanya bertemu di Facebook, imajinasi mimpi dan nama-nama masa kecil.

selama sepuluh tahun belakangan, aku pernah bertualang kemana saja. melintasi dan juga menginap di sudut-sudut yang aku tak kenal lalu menuliskan puisi. mungkin itu kampung anda. atau pernah kutuliskan sebuah peristiwa kecil. mungkin itu juga peristiwa anda.

buku kumpulan puisi ini, pengantarnya dituliskan oleh DR Ahyar Anwar, sahabat yang sekaligus Guru yang banyak menemaniku dalam perjalanan menuju alam sastra tujuh tahun belakangan ini.

puisi Mawar dan Penjara adalah puisi yang aku tulis di sebuah sel Polsekta di makassar pada tahun 2002. dan juga puisi pertama yang saya bacakan buat kanda Ahyar Anwar saat pertama kali berjumpa di Gedung Jurusan BS Unm lantai dua di akhir tahun 2003. puisi ini juga adalah puisi yang dibacakan oleh kanda saya Andi Mappasomba di kantor LBH Makassar, ketika itu di Jalan Macan Makassar, sebelum menyerahkan diri ke POLDA Sulsel atas pertanggungjawabannya melakukan perlawanan bersama petani kajang tahun 2003, melawan PT LONdSUM. bahkan puisi ini telah digubah menjadi lagu oleh UKM SB 9 Univ. Islam Makassar.

buku ini, juga alhamdulillah akan menjadi MAHAR PERNIKAHAN saya, insya allah jika Allah Meridhai. perempuan itu telah ditemukan.

semoga siapapun yang telah menjadi inspirasi dari penulisan semua puisi ini, selalu mendapat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah yang Maha Agung dan Pemurah.

buku puisi ini belum akan dijual dan diedarkan di toko manapun. buku ini, akan saya berikan secara khusus, kepada mereka yang memiliki senergi hati dan kesamaan warnah hidup dalam memandang kenangan. mereka yang selalu mau menghargai peristiwa kecil dan kisah kecil dalam kehidupan mereka. aku akan mengantarkan sendiri buku ini untuk mereka.

tak ada peristiwa yang betul-betul sama terulang dalam waktu

salam cinta dariku yang sedang sakit!


Andhika Mappasomba