Selasa, 06 April 2010

(Sekedar membaca kumpulan puisi Andhika Mappasomba)

BY; Laila Qadriani / Perempuan Senja
Mawar dan Penjara


Mawar dan Penjara. Sebuah puisi dan kisah pun bercerita. Mawar dan Penjara, kumpulan puisi yang tidak hanya sekedar puisi yang lahir dari penjara. Banyak kisah yang menyertainya meski hanya lewat penjara. Lalu apa yang tabu dari penjara itu sendiri? tak sekedar menampilkan kedirian yang lahir dari apa yang dipandang sebagai hal yang tabu.

Terlepas dari sisi mawar sebagai lambang atas perempuan, serta penjara sebagai tempat pesakitan yang tak lagi menakutkan. kumpulan puisi ini telah benar-benar mampu menghadirkan tempat yang berbeda. kehadiran buku ini kemudian menjadi sebuah cerita sendiri tentang sebuah interupsi yang tak akan pernah berhenti atas apa yang ada. sebuah realitas sosial yang luka dan semakin sakit .

Puisi Mawar dan Penjara yang ditulis Andhika Mappasomba di balik jeruji polsekta sembilan makassar dibulan desember 2002, tak pernah henti diulas. perbincangan ini pun tak hanya sekedar ulasan. puisi ini kemudian menjadi roh dari setiap seruan perubahan dan perlawanan terhadap apa yang tak semestinya terjadi. puisi ini mampu bertahan selama delapan tahun sebagai sebuah roh perlawanan yang diapresiasi dalam segala bentuk seni. Ditransformasikan ke dalam seni lukis, teater, dan musik.

selama masih ada tanah berpijak dan air pelepas dahaga

kecuali ada tangan jahil yang datang mencabutnya

tapi yakin saja, walau tercabut akarnya, bekasnya akan tetap ada

hingga suatu hari

ada jari-jari lentik yang datang kembali

menancapkan bunga mawar yang baru

Petikan puisi ini, menegaskan betapa sebuah keberanian mampu menjadi tanah berpijak untuk menegakkan kebenaran. lebih lanjut, Andhika Mappasomba memberikan semiotika yang berbeda terhadap mawar. Mawar yang dilahirkannya tak lain adalah sebuah idealisme dan harapannya tentang perubahan yang tak selalu diraih dengan kekerasan walau sesekali mesti menjadi sebuah jalan perubahan.

Apa yang hendak disampaikan Andhika dalam kumpulan puisinya ini menjadi karakter yang utuh secara sadar dalam dirinya. Ia ternyata tak mampu melepaskan diri terhadap kelembutan itu sendiri sambil mungkin saja menyelipkan sebilah badik di pingganggnya yang sesekali ditengoknya. menikamkannya pada wajah keresahan di Republik ini, seperti apa yang baru-baru saja dilakukannya ketika bertemu Pansus Century ketika bertandang ke makassar.


Mawar dan Penjara lahir dari kegelisahan yang digerakkan oleh jiwa muda yang refolusioner. sebab pada masa itu, kekuatan pergerakan menjadikan andhika selalu turun ke jalan bersama aktivis-aktivis mahasiswa lainnya, baik sebagai piranti aksi maupun simpatisan. ketika itulah, kisah mawar dan penjara menjadi semakin kuat dan hidup.

Terlepas dari puisi-puisi yang telah banyak dituliskannya dengan kisah yang tak pernah berubah, Andhika Mappasomba tak serupa pesastra lainnya yang memilih membenamkan dirinya dalam kamar menatap ke jendela pelan-pelan dengan nanar. Andhika seperti kebanyakan ia disapa adalah seorang demonstran ulung. Pembaca tulisan-tulisannya adalah massa aksinya yang diagitasi dengan teks-teks yang sangat revolusioner. Tak hanya itu, hal sederhana namun tak lazim bagi setiap seniman, adalah skuter tuanya yang selalu dijulukinya aladin selalu menemaninya bertualang merangkai kisah-kisah kecil di dunia sastra hingga ke pelosok terpencil republik ini.

Seperti halnya geliat sastra yang sempat menjaya di Makassar dengan kelompok-kelompok diskusi yang selalu intens membincangkan kesusastraan di republik ini, Andhika menjadi penggiat ulung untuk mengembalikan geliat yang selama ini telah tertidur lelap lama sekali. Apa yang dilakukannya dalam perjalanan panjangnya ke setiap dusun-dusun yang mungkin saja tak pernah diketahui dalam peta menjadikannya mampu membentuk berbagai komunitas sastra di setiap dusun, memberdayakan pemuda yang memang sebelumnya telah memiliki potensi bersastra. Kebiasaan uniknya ini pulalah yang selalu mempertemukannya dengan penggiat-penggiat sastra lainnya.

Apa yang melanda dunia kesuastraan kita menjadi tak lagi mengaung dan bermimpi hingga tak pernah terbangun lagi dan menampakkan taringnya lagi menjadi kisah tersendiri bagi Andhika. ruang-ruang diskusi yang berusaha dibangunkannya kembali menjadi efek tersendiri bagi perkembangan dunia kesusastraan kita. Kisah penyair rombeng yang diungkapkannya dalam salah satu puisi pada kumpulan puisinya, Mawar dan Penjara seolah menegaskan dirinya yang sederhana dan biasa-biasa saja namun menjadikan ia sebagai penyair yang betul-betul berbeda dari penyair lainnya yang di republik ini. Jika WS. Rendra dijuluki sebagai burung merak, maka tak salah jika ia menjadi icon dalam puisinya sendiri. Jika kelak kau bertemu dengan seorang lelaki di tengah perjalan panjangnya dengan skuter tua dan setangkai mawar serta khas topi rimba warna hijaunya yang tak pernah bersih, maka ialah andhika mappasomba seorang penyair yang tak ingin dijuluki siapa-siapa.

Sebelumnya, puisi ini pula pernah diterbitka bersama dalam kumpulan puisi dan cerpen ingin ku kencingi mulut monalisa yang tersenyum pada tahun 2004 bersama Anis K. Al-Asyari. lalu apa yang menjadikan Mawar dan Penjara menjadi semakin mengaung? Teks-teks yang membangunnya memang sederhana, namun seperti apa yang menjadi kekuatan setiap puisi adalah metaforanya, maka puisi Mawar dan Penjara juga memiliki kekuatan metafora yang dalam dan tajam.

Maka pantaslah kiranya jika kumpulan puisi Mawar dan Penjara ini menjadi incaran pembaca sastra masa kini.

2 Comments


EmoticonEmoticon