Fenomena
Perilaku BABS dan Rasa Malu
Oleh Andhika Mappasomba
Buang Air Besar Sembarangan (BABS) bukanlah
wacana baru di dalam mendorong perilaku hidup sehat di masyarakat Indonesia.
Bahkan, untung hal yang satu ini, pemerintah dengan berbagai program terus
melakukan penyadaran melalui penyuluhan yang dikemas sedemikian rupa namun,
hasilnya dapat dikatakan belum maksimal apalagi, setelah sebuah UNICEF (www.pkpu.tv) melansir data (2013) bahwa masih ada
sekitar 26 % populasi Indonesia yang melakukan BABS.
.
Jika menilik sejarah pemukiman di
Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, di awal-awal kemerdekaan, pola bermukim
masyarakat Sulawesi selatan adalah pola yang perkampungan yang tidak padat
dalam artian, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berjauhan yang
memungkinkan mereka untuk berperilaku BABS dengan bebas. Beberapa tahun setelah
kemerdekaan, seperti dituturkan oleh banyak tetua di Sulawesi Selatan bahwa
pemerintah mengeluarkan himbauan agar penduduk berpindah ke ruas-ruas
jalan. Sejak saat itulah, jalan-jalan
utama mulai dipadati oleh rumah penduduk.
.
Semakin padatnya rumah penduduk di poros
jalan utama tentunya melahirkan persoalan-persoalan social yang baru,
diantaranya BABS. BABS dan efek negatif yang ditimbulkannya bagi kesehatan
masyarakat semisal diare yang muncul dari bakteri ekoli yang dikandung oleh
(air besar)AB. Diare menjadi persoalan serius karena dapat mengakibatkan
kematian, dan dapat menjadi wabah yang meluas karena penularannya yang dapat
terjadi cukup massif.
.
Gerakan hidup bersih dan bebas perilaku
BABS khususnya di kota-kota di Indonesia memang dapat dikatakan cukup berhasil
namun, untuk masyarakat yang di tepi kota, sebutlah wilayah pesisir pantai dan
pegunungan, sepertinya masih membutuhkan semangat dan strategi yang jitu untuk
menyadarkan masyarakatnya.
.
Perilaku BABS sebagai sebuah perilaku
primitif tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan masyarakat semata. Umumnya,
sebuah komunitas masyarakat yang berperilaku buruk soal BABS ini memiliki alas
an-alasan yang cukup rasional untuk membenarkan perilaku mereka. Diantaranya;
mereka akan mengatakan bahwa dengan melakukan BAB di tepi sungai dan pantai
akan lebih praktis sebab, air dapat diperoleh dengan mudah dan tidak repot
lagi. Walaupun, mereka menyadari bahwa perilaku tersebut dapat memunculkan
malapetaka, penyakit menular.
.
Dari data yang
ada, beberapa wilayah di Indonesia yang dapat dijadikan sample tentang perilaku
masyarakat yang masih melakukan BABS adalah Daerah suku Mandar (Pambusuang dan
Tinambung) Sulawesi barat, di Sulawesi Selatan semisal wilayah Tampinna Luwu
Timur, beberapa wilayah pesisir di wilayah Kabupaten Kepulaun Selayar, Pantai
Lapakaka Mallusetasi di kisaran perbatasan Barru dan Pare-Pare, Pantai Merpati Bulukumba, Pantai Tanah Beru
(wilayah pembuatan perahu tradisional Pinisi Bulukumba), beberapa wilayah di Kalimantan memang juga
memfokuskan aktifitas Mandi, Cuci dan Kakus (MCK)nya di sungai semisal Kampung Bugis Kelurahan Teluk Bayur Kabupaten Berau
Kalimantan Timur, dan sebagainya.
.
Tingkat pendidikan sebuah komunitas
masyarakat, menjadi hal terpenting dalam menanamkan kesadaran tentang perilaku
buruk BABS. Buktinya, setiap wilayah perkotaan tampaknya, perilaku BABS
masyarakatnya juga, tampaknya cukup menurun. Sementara, masyarakat pesisir dan
pedalaman memang umumnya, cukup rendah dalam mengenyam pendidikan.
.
Jika melihat fenomena tersebut di atas, ke
depan, jika tingkat pendidikan mulai merata dan ajakan hidup sehat tetap
dilakukan, tentunya, akan sangat mudah untuk menanamkan kesadaran tersebut. Terlebih,
jika pemerintah telah berhasil mekakukan pemerataan dalam memberikan
ketersediaan air bersih yang mudah dan murah bagi masyarakat di segala lapisan
dan tingkatan wilayah.
.
Selain menunggu, ada baiknya, jika
pemerintah secara massif pula memperkenalkan metode-metode yang berhasil
diterapkan di beberapa wilayah di
Indonesia dalam melakukan rekayasa perilaku secara revolusioner dalam
menghentikan perilaku BABS.
.
Nusatenggara Barat yang beribukotakan
Mataram adalah salah satu wilayah di Indonesia yang patut dijadikan sample
dalam memerangi perilaku BABS. Dari sebuah situs berita di internet di sebutkan
bahwa beberapa daerah di wilayah tersebut menerapkan Awiq-Awiq (aturan adat)
yang tegas soal BABS dimana, awalnya ada beberapa desa atau kelurahan yang membuat
semacam Awiq-Awiq yang mengatur bahwa jika ada masyarakat/warga yang kedapatan
melakukan BABS maka namanya akan diumumkan di masjid setempat. Bukan hanya itu,
selain diumumkan namanya, warga tersebut akan dikenakan denda sebanyak Rp. 5000
yang akan dibayarkan ke kantor desa/kelurahan dan uang tersebut akan dimasukkan
ke dalam kas desa/kelurahan.
.
Di sisi lain, untuk mendukung program
tersebut pemerintah setempat juga mendorong ketersediaan sanitasi dan air
bersih bagi masyarakatnya.
Model pendekatan di Mataram tersebut, kini
sudah hampir merata di wilayah tersebut sehingga menempatkan wilayah tersebut
sebagai wilayah percontohan dan di awal tahun 2013, wilayah tersebut
mendapatkan penghargaan dari kementerian kesehatan Republik Indonesia.
.
Untuk Sulawesi Selatan, prinsip hidup Siri’
na Pacce sebenarnya sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai modal dalam
menanamkan kesadaran. Siri’ atau rasa malu tentunya akan lebih mudah diterima
masyarakat, hanya saja, formulasi gerakannya tentu akan disesuaikan dengan kecenderungan
budaya masyarakat, misalnya; mendorong jargon-jargon BABS adalah perilaku
kurang Siri’. Bagaimana tidak, melakukan BABS di sungai atau tepi pantai
menempatkan seorang (pelaku) untuk berada dalam situasi yang memungkinkan untuk
mempertontonkan dirinya dalam keadaan “telanjang” dimana telanjang adalah
sebuah tindakan yang memalukan atau “kurang siri’.
.
Sungguh tak apik menyaksikan seorang lelaki
gagah atau gadis cantik sedang buang air besar di tepi pantai, sementara kita
sedang duduk tak jauh darinya, menyaksikan matahari terbit atau matahri
terbenam. Sebuah fenomena yang menggelikan. Bayangkan jika dia adalah
kekasih anda.
Andhika Daeng Mammangka.
Pegiat Seni dan Budaya, Jurnalis. Menulis buku sastra dan gemar melakukan riset
di bidang social dan budaya.
Tulisan lama- 2013-, dibuang sayang dipelototi saja.
EmoticonEmoticon