Sepanjang Langit
Nusantara
oleh andhika mappasomba daeng mammangka
matahari pagi terbit
anak-anak berlari ke dalam waktu yang
merentang
menyanyikan lagu tentang ibu pertiwi
menyanyikan lagu indonesia pusaka
sambil menangis
lantaranmereka sadar bangsa ini tegak
dari belulang para pejuang
dan disuburkan kisahnya dengan darah,
air mata dan peluh,
serta nyawa yang tiada terbilang
lalu mereka digeletakkan dalam
makam-makam massal tanpa nama, tanpa pusara dan juga kisah-kisah desingan
peluru
matahari tepat di atas kepala
71 tahun sudah kita merdeka
bebas sudah kita membilang berjuta-juta
ton batu bara, berbukit-bukit emas nusantara, berjutakilo timah dan tembaga,
ikan-ikan yang tak pernah habis, mutiara yang indah, zamrud dan permata rupa warna merentang di
sepanjang khatulistiwa
tapi
semua itu kemana dan siapa yang punya?
matahari masih di atas kepala
suasana menjadi panas, surat kabar ikut
mengibas kita ribut!
garuda membentang sayap dari sabang
hingga merauke
bhinneka tunggal ika mendengung di
angkasa nusantara
maka
kecapi dipetik menjadi sampek,
sayang-sayang, kabanti, sinriliq, okulele dan sasando
gendang ditabuh menjadi rebana, jimbe,
ganrang rua makassar, poce, buku tedong, tanjidor, angklung, dan seruling sunda
mengikat kita dalam amarah membara.
hati kita menyala tapi tetaplah tegak
indonesia
suasana masih panas
matahari di atas kepala enggan bergeser
ribuan orang tumpah ke jalan
jutaan orang ikut mengibas-ngibas
suasana yang panas
nusantara bergetar, nusantara digoyang
amarah, nusantara dijilati angkara
sepanjang jalan-jalan nusantara penuh
provokasi
pohon-pohon di tepi jalan ditempeli
seruan aksi
tembok-tembok kota ditulisi kata-kata
penuh sensasi
tentara dan polisi sibuk mengamankan
situasi
intelejen negara kelimpungan melaporkan
suasana hati
wartawan-wartawan sibuk menulis kabar
berita
jurnalistivi panen angle gambar berita
mahasiswa sibuk urusan sendiri
pemuda pemudi bergandengan tangan
berjalan ke dalam sepi
kita disini entah merayakan apa
kita berkumpul di sini entah untuk siapa
suasana masih panas
bukan hanya nusantara
tapi di berbagai belahan dunia
israel dipanggang api bagaikan neraka
muslim rohingnya diusir dari tanahnya
angin badai memporandakan jepang dan
miyami
angin tornado menghampiri amerika
gempa merontokkan haiti
tki diculik gerilyawan bersenjata
filipina
tkw dianiaya di tanah arab
buruh diphk di utara indonesia
irak masih membara
suriyah masih terbakar poranda
tepi barat dan jalur gaza masih
bersimbah darah
libanon, yaman, mesir, entah akan
menjadi apa
yunani bangkrut kehilangan filosofi
ambon, poso dan sampit pernah bersimbah darah
cukuplah semua menjadi guru dan
pelajaran
anak-anak nusantara mesti pandai menarik
hikmah-hikmah angkara
kita mesti bersatu padu menjaga suasana nusantara
agar masih bisa mendengarkan rebana
agar masih damai merayakan tujuh belasan
agar masih bisa menikmati ketupat di
hari lebaran
agar masih bisa menggelar musabaqah
tilawatil quran
agar lovely desember masih terdengar
agar borobudur maih ramai dikunjungi
agar bali tetap bisa damai sepi di hari
nyepi
agar kita masih mendengar kabar damai di
hari waisak
agar lonceng kelenteng dan dupa masih
ramai dikunjungi
saudaraku sebangsa dan setanah air
sesama asal tanah dan dihidupi air
sesama asal tanah dan air lalu kelak
dimakamkan di lubang tanah nusantara
indonesia cuma bisa tegak
jika hukumnya tegak di dalam kenyataan
indonesia akan menjadi cacian dan
olok-olokan
jika hukumnya menyembunyikan keadilan di
dalam buku hukum
dan kitab-kitab dusta para penerjemah
palsu kebenaran
tegakkan hukum nusantara dan tangkap
para penista
hukum pancung para penghina agama langit
lalu kita dengan bangga mengibarkan
bendera merah putih di halaman sepanjang
hari
berkibar di langit nusantara
berkibar di hati anak-anak nusantara
berkibar di halaman kantor tentara
berkibar di halaman kantor polisi
berkibar di seluruh bukit dan gunung
berkibar di seluruh sungai dan laut
lalu kita percaya nkri harga mati
hukum tidak bisa ditawar
jayalah bangsaku
merdeka
Bulukumba, 29 november 2016

EmoticonEmoticon