aku menginjak pulau bunyu di lipatan tahun 2010
merekam jejak sejarah menjadi sajak
dan menggerakkannya bagai ombak di pantai nibung yang tak pernah berhenti
dan sajak ini akan tua
bagai sisa besi-besi tua yang beserakan di sisi-sisi gedung yang juga tua
atau sajak ini akan berlubang bagai jalanan aspal yang lelah ditambal sulam dengan semen
atau akan ditinggalkan bagai wahana air di luar kota yang beranjak sepi
dan menyisakan sejarah percintaan yang terus tumbuh dengan cabang-cabang yang rapuh di bunyu
sajak ini akan tua
namun dia rela merekam jejak sejarah bandara yang tak lagi memiliki burung-burung baja
dan gedungnya penuh jala laba-laba yang juga dipenuhi ilalang dan cerita masa silam pulau yang menjadi sapi perahan
dia akan merekam jejak sejarah tentang wabah yang menguburkan separuh rakyat bunyu
sajak ini akan tua
dan mungkin saja aku telah tiada saat terbaca
tapi dia akan merekam sejarah. tentang dermaga tua yang penuh dengan ikatan, kayu hitam yang telah terganti dengan dermaga beton yang tampaknya kurang kuat.
dan di dermaga manakah lebih banyak cerita yang lahir tentang pertemuan dan perpisahan?
sajak ini akan tua
dan dia hanya tua dan tak bisa membunuh tanya di jiwa. dimanakah tidung? dimanakah dayak? dimanakah tradisi? dimana pertanda budaya? dimana nilai? dimana identitas? dimana bunyi nyanyian identias? dimana aku dimana kau dalam sejarah bunyu?dimana pulau bunyu?
inilah sajak yang akan terus bertanya sampai menjadi tua
tentang berita yang selalu mengganggu
jika betul minyak membuat negara tampak kaya raya bagai bangsa-bangsa lain, mengapa bunyu masih dipenuhi pertanyaan tentang kemanakah perginya minyak pulau bunyu?
jika betul pulau bunyu mengandung batu bara di pelukannya, kemanakah larinya uang-uang penjualan batu bara pulau bunyu?
mengapa masih banyak rumah kumuh di muara sungai buaya?
jika negara lain penghasil minyak itu sungguh kaya, mengapa rakyat pulau bunyu masih juga gelisah dengan makan malamnya?
mengapa rakyat disini masih resah dengan makan siangnya padahal gas dihisap bagai air ludah dari perut bumi?
pertanyaanku tak mungkin terjawab. aku tak menemukan gedung perpustakaan di pulau ini untuk membuka buku dan menjawab semua pertanyaan
pertanyaanku tak mungkin terjawab untuk membuka rekam jejak sejarah, di pulau ini tak ada museum untuk menelusuri masa silam
aku akan merindukan samurai jepang dan fosil purba pulau bunyu di tepian zaman dan tak kunjung terjabarkan
aku tanam sajak di pulau bunyu
pada sebuah batu hitam di pantai nibung bersama sejarah hitamnya
dan pada sepasang mata yang kuruindukan untuk selalu kembali
aku tanam sajak pada pucuk cemara di pantai nibung
dia akan tumbuh menjadi tua dan tak akan pernah berhenti bertanya
dimanakah pulau bunyu?
Mungkin dalam linangan air mata kenangan
Ketika semuanya selesai ditambang dengan tergesa dan ditinggalkan
(sebuah catatan perjalanan diri untuk Indonesia)
Pulau Bunyu/Makassar, 2010-2011
2 Comments
sungguh rangkaian kata dan kalimat yang sarat makna :)
wOW pagi pagi membaca rangkain kata nun indah syahdu.Oh ya sob pulau bunyu itu apa ada di mana?Pingin tahu.
oh ya sob, ada undanagn untuk para blogger, jika berkenan silahkan di chek ke gubuk BOB.
EmoticonEmoticon