PENYAIR HIDUP MEMAKAN APA?
By: Andhika Daeng Mamangka
nelayan hidup dari jaring ikan
sopir hidup dari roda mobil
tukang becak hidup dari keringat
tukang ojek hidup dari motor
buruh hidup dari tulang
...
pagandrang hidup dari gendangnya
arsitek hidup dari gambarnya
tukang batu hidup dari sekop dan sendoknya
tukang kayu hidup dari pahat, palu dan gergaji
penyiar hidup dari mulut wajah, mata dan telinganya
wartawan hidup dengan pena nya
tukang cuci hidup dari kotoran
pencopet hidup dari keahliannya
perampok hidup dengan menukar nyawa
kapten, nahkoda dan awak hidup dari kapalnya
polisi tentara hidup dari senjatanya
jaksa hidup dari persoalannya
hakim hidup dari palunya
pelukis hidup dari kuas kanvasnya
pematung hidup dari patungannya
pemahat hidup dari pahatnya
guru hidup dari sekolahnya
pedagang hidup dari dagangannya
dokter hidup dari rasa sakit
perawat hidup dari si sakit
apoteker hidup dari penyakit
bidan hidup dari persalinan
politisi hidup dari lidahnya
Loper hidup dari koran yang bukan korannya
jika
semua telah jelas dalam keadilan, jalan rejeki dan kehidupan
lalu penyair yang memilih jalan sepi kehidupan,
dia hidup dari mana?
dia hidup memakan siapa?
seniman hidup dari mana?
kadang kita begitu lupa, mendiamkan sebiji apel segar, membusuk di dalam laci, bahkan, setelah busuk pun, lalu ia ditelan makan. padahal kita tahu, apel segar selalu menawarkan aroma yang harum
seniman hidup dari pengabdiannya kepada sepi, kepada sedih, kepada akal hati, kepada perih, kepada benci, kepada berkendi-kendi air mata, kepada tawa, dari sisa maki.
setelah syairnya dibacakan, dibicarakan, didengarkan, kita lupa memberikan kehidupan untuknya.
setelah sajaknya kita dengarkan dan kita terbahak-bahak menertawai diri sendiri, kita jadi lupa demi sebuah syair, mereka menelantarkan diri dalam kemiskinan. dan KEADAAN pura-pura, lupa memberikan amplop di saku kirinya, lalu dia pulang berjalan kaki, melintasi 5 kota di lima kabupaten.
pendegar syair itu sungguh tahu, dia mempercepat kematian si penyair. Lalu, 5 tahun setelahnya, masih dengan bahak yang sama, sipendengar syair tersenyum simpul berkata; boleh aku meminta 1 buku syairmu?
penyair berkata;
jika kau kuberi satu
penyair hidup memakan apa?
Bulukumba, 14 September 2012
arsitek hidup dari gambarnya
tukang batu hidup dari sekop dan sendoknya
tukang kayu hidup dari pahat, palu dan gergaji
penyiar hidup dari mulut wajah, mata dan telinganya
wartawan hidup dengan pena nya
tukang cuci hidup dari kotoran
pencopet hidup dari keahliannya
perampok hidup dengan menukar nyawa
kapten, nahkoda dan awak hidup dari kapalnya
polisi tentara hidup dari senjatanya
jaksa hidup dari persoalannya
hakim hidup dari palunya
pelukis hidup dari kuas kanvasnya
pematung hidup dari patungannya
pemahat hidup dari pahatnya
guru hidup dari sekolahnya
pedagang hidup dari dagangannya
dokter hidup dari rasa sakit
perawat hidup dari si sakit
apoteker hidup dari penyakit
bidan hidup dari persalinan
politisi hidup dari lidahnya
Loper hidup dari koran yang bukan korannya
jika
semua telah jelas dalam keadilan, jalan rejeki dan kehidupan
lalu penyair yang memilih jalan sepi kehidupan,
dia hidup dari mana?
dia hidup memakan siapa?
seniman hidup dari mana?
kadang kita begitu lupa, mendiamkan sebiji apel segar, membusuk di dalam laci, bahkan, setelah busuk pun, lalu ia ditelan makan. padahal kita tahu, apel segar selalu menawarkan aroma yang harum
seniman hidup dari pengabdiannya kepada sepi, kepada sedih, kepada akal hati, kepada perih, kepada benci, kepada berkendi-kendi air mata, kepada tawa, dari sisa maki.
setelah syairnya dibacakan, dibicarakan, didengarkan, kita lupa memberikan kehidupan untuknya.
setelah sajaknya kita dengarkan dan kita terbahak-bahak menertawai diri sendiri, kita jadi lupa demi sebuah syair, mereka menelantarkan diri dalam kemiskinan. dan KEADAAN pura-pura, lupa memberikan amplop di saku kirinya, lalu dia pulang berjalan kaki, melintasi 5 kota di lima kabupaten.
pendegar syair itu sungguh tahu, dia mempercepat kematian si penyair. Lalu, 5 tahun setelahnya, masih dengan bahak yang sama, sipendengar syair tersenyum simpul berkata; boleh aku meminta 1 buku syairmu?
penyair berkata;
jika kau kuberi satu
penyair hidup memakan apa?
Bulukumba, 14 September 2012
EmoticonEmoticon