puisi ini saya tulis bersama adik Andy Hardiyanti Hastuti/ http://tuchandy.blogspot.com pada sebuah pertemuan tak terduga, sesaat sebelum gerimis turun mendera Bumi UNM ParTamb Makassar
"Bulan dan Hujan"
:sebuah prasasti pertemuan
malam kemarin,
bulan mengusir hujan dengan paksa
sebab ia ingin melihat langit bahagia semalam saja
tak meneteskan airmata seperti kemarinkemarinnya
malam kini,
hujan mengusir bulan dengan teriak
sebab ia ingin berdua saja bersama langit
merasa gelap sunyi tanpanya ataupun bintang
lalu pada malam esok, bulan dan hujan bermimpi
berdua mereka bernyanyi lagu sendu
disaksikan matahari dan bintang
sesaat kemudian keduanya terbangun
sebagaimana matahari yang pagi dan bintang yang malam
bagaimana pun juga mereka tak kan bersatu
sambil sembunyi
bulan dan hujan menangis tersedu-sedu!
Andhika Mappasomba & 22t
UNM, 16 November 2008
"Penyair Senja"
ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, hanya saat senja
ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, masih memainkan sulaman kata
ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, ketika pikirannya sudah semakin tua
ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, ketika rindu menikamnikamnya
ia satusatunya penyair yang tak merdeka
mencipta sajak, hanya bila ada pensil kayu dan kertas buram
senja memudar, perlahan malam tiba
sebagaimana senja, penyair pun telah tiada
angin menghapus semua jejak sajaknya
malam membekukan kertas
matahari memanggangnya jadi debu
penyair senja jadi bayangbayang
Andhika Mappasomba & 22t
UNM, 16 November 2008
Senin, 24 November 2008
Sebuah Prasasti Pertemuan
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
EmoticonEmoticon